MUNA, EDISIINDONESIA.id – Tarif buruh bongkar muat di Pelabuhan Nusantara Raha, Kabupaten Muna, kini menjadi sorotan tajam. Angka yang dipatok dinilai terlalu tinggi, berpotensi menghambat minat investor untuk menanamkan modal di daerah tersebut.
Sorotan ini dikemukakan oleh Komandan Kodim (Dandim) 1416/Muna, Letkol Inf. Salman Hasibu. Ia menyatakan bahwa tarif buruh di pelabuhan tersebut terkesan jauh lebih tinggi dibandingkan daerah lain.
“Saat ini, mengapa transportasi laut agak sulit masuk ke Kabupaten Muna? Banyak keluhan yang saya dengar dan alami sendiri bahwa tarif buruh kita terlalu tinggi,” ujar Letkol Inf. Salman Hasibu.
Menurutnya, tingginya tarif buruh ini dapat memengaruhi perhitungan bisnis para pengusaha. Penetapan tarif yang terkesan sewenang-wenang ini menjadi perhatian serius. Salman mengaku terkejut saat mengetahui biaya buruh untuk mengangkut material pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP). Biaya buruh ternyata lebih mahal dibandingkan biaya sewa mobil pengangkut.
“Yang membuat saya keluhkan adalah jumlah pembayarannya. Kami mendatangkan material, bayangkan saja kami menyewa mobil seharga Rp700 ribu, tetapi harus mengeluarkan hingga Rp900 ribu hanya untuk buruhnya saja,” ungkapnya.
Letkol Inf. Salman Hasibu menambahkan bahwa biaya buruh di Pelabuhan Nusantara Raha diduga merupakan salah satu yang tertinggi di Indonesia. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk minimnya bantuan peralatan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muna dan manajemen buruh yang belum terorganisir dengan baik.
Oleh karena itu, Salman menegaskan pentingnya perhatian dari pemerintah daerah dan otoritas pelabuhan terhadap keluhan ini. Ia mendesak agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap tarif buruh di Pelabuhan Nusantara Raha demi menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif.(**)
Comment