Hanya PT Ceria, ASR Perintahkan Disperindag Cari Tahu Penyebab 3 Smelter Tidak Ekspor Lewat Pelindo

KENDARI, EDISIINDONESIA.id – Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Andi Sumangerukka meminta Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sultra untuk menyelidiki alasan mengapa hanya PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) yang melakukan ekspor feronikel melalui PT Pelindo Kendari.

Menurutnya, terdapat beberapa perusahaan pabrik smelter di wilayahnya, antara lain PT OSS, PT VDNI, dan PT Antam, namun hanya PT Ceria yang menggunakan jasa ekspor dari PT Pelindo.

“Kenapa hanya PT Ceria yang ekspor lewat pelindo, Kan disini ada PT OSS, ada PT VDNI juga ada PT Antam,,” ujar Andi Sumangerukka saat meluncurkan ekspor perdana feronikel langsung ke China di fasilitas PT Pelindo, Rabu (28/1/2026).

Sapaan akrabnya ASR, memerintahkan kepala dinas terkait untuk mencari tahu penyebab perusahaan-perusahaan lain tidak melakukan ekspor melalui Pelindo.

“Saya perintahkan pak Kadis Perindustrian dan Perdagangan untuk mencari tau jawabannya,” katanya.

Sementara itu, Kepala Disperindag Sultra, Sukanto Toding menyampaikan bahwa pihaknya akan segera melakukan penyelidikan terkait hal tersebut.

“Kita akan cari tahu dulu apa penyebabnya,” ucapnya.

Mantan Plt Bupati Kolaka Utara ini menduga, kemungkinan PT OSS, PT VDNI, dan PT Antam memiliki kuota ekspor atau saluran distribusi sendiri.

“Bisa saja mereka memiliki kuota sendiri untuk meng ekspor secara mandiri,” tambahnya.

Diketahui, PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) menggunakan teknologi mutakhir Rectangular Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF), yang dirancang khusus untuk memproduksi Low-Carbon Ferronickel serta telah beroperasi sejak 27 April 2025 dan mencatatkan keberhasilan ekspor perdana pada awal Juli 2025 lalu.

Dengan kapasitas 72 MVA dan inovasi teknologi energi efisiensi dan emisi kontrol, smelter ini mampu menghasilkan hingga 63.200 ton feronikel berkadar 22 persen, atau setara dengan 13.900 ton logam nikel per tahun.

Dengan sumber energi dari sebagian besar hydropower dan memiliki Renewable Energy Certificate (REC), menghasilkan produk green nickel rendah karbon.(**)

 

Comment