EDISIINDONESIA.id – Pegiat Media Sosial (Medsos) Lukman Simanjuntak, memberikan respons terkait format baru debat Capres-cawapres pada 2024 mendatang.
Seperti diketahui, pada format baru tersebut, KPU tidak lagi menerapkan debat khusus Cawapres seperti pada 2019 lalu.
“Karena Gibran gak bisa bicara,” timpal Lukman dalam keterangannya di aplikasi X @hipohan (1/12/2023).
Karena tidak bisa bicara, kata Lukman, maka segala macam cara dilakukan untuk memuluskan jalannya Gibran pada kontestasi Pilpres 2024.
“Maka program kampanye menjadi Gibran Mendengar. Bukan cuma itu debat khusus seperti 2019 dihilangkan KPU, semuanya demi anak haram konstitusi,” tandasnya.
Sebelumnya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengumumkan perubahan format debat dalam rangka Pemilihan Presiden 2024.
Berbeda dengan Pemilu sebelumnya, khususnya Pemilu 2019 yang melibatkan debat khusus calon wakil presiden (Cawapres), KPU kali ini memutuskan untuk mengadopsi pendekatan yang berbeda.
Dalam pernyataan resmi, KPU menjelaskan, keputusan ini diambil untuk memberikan fokus lebih pada gagasan dan visi misi calon presiden (Capres).
Tidak adanya debat khusus Cawapres diharapkan dapat mempercepat penyampaian ide dan konsep yang dimiliki oleh Capres kepada masyarakat.
Format debat baru ini akan melibatkan serangkaian sesi tanya jawab antara para calon presiden.
KPU menekankan bahwa setiap Capres akan diberikan kesempatan seimbang untuk menjelaskan program dan rencananya kepada pemilih.
Meskipun debat khusus Cawapres tidak lagi menjadi bagian dari format, KPU menegaskan bahwa seluruh wakil presiden tetap akan terlibat dalam debat bersama calon presiden.
Meskipun pada putusan format baru ini mendapatkan beberapa sentilan negatif, namun KPU menegaskan keputusan ini merupakan hasil dari evaluasi menyeluruh terhadap format debat sebelumnya.
Mereka berharap, perubahan ini akan membawa dampak positif dalam meningkatkan transparansi, kualitas, dan substansi debat, sehingga masyarakat dapat membuat keputusan yang lebih informasional pada saat memilih pemimpin negara di Pemilu 2024 mendatang. (edisi/fajar)
Comment