KENDARI, EDISIINDONESIA.id – Kepala Sekolah TK Mulia Islam Kendari, Lisnawaty, beri tanggapan mengenai dugaan tindakan penganiayaan oleh oknum guru inisial AI terhadap orang tua siswa pada Kamis (30/4/2026).
Lisnawaty sangat menyayangkan tindakan tercela tersebut. Ia mengaku sama sekali tidak membenarkan penganiayaan oleh oknum guru ini, apalagi dilakukan di lingkungan sekolah.
“Sebenarnya kami tidak pernah membenarkan atas tindakan yang terjadi di sekolah, karna maksudnya tidak pantas,” kata Lisnawaty saat ditemui di ruangannya, Kamis (21/5/2026).
Kepada media ini, Lisnawaty menerangkan meskipun sempat terjadi keributan, situasi belajar mengajar di sekolah tetap berjalan aman dan kondusif.
Lebih lanjut, kata dia, oknum guru ini telah diberi sanksi tegas berupa pemecatan sehari setelah tindakan penganiayaan atas koordinasi dengan pihak Yayasan.
“Kami sudah mengambil tindakan tegas, kami juga sudah bicara dengan Ketua Yayasan sama guru-guru kita ambil tindakan sanksi konsekuensinya kami sudah mengeluarkan ibu tersebut dari sekolah,” ujarnya.
Dugaan penganiayaan ini kabarnya telah bergulir di Polsek Mandonga. Pihak sekolah menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian untuk memproses kasus tersebut sesuai dengan hukum yang berlaku.
“Iya kayaknya seperti itu to. Karna maksudnya dari pihak sekolah karna kami juga sudah mengambil sanksi untuk memberhentikan ibu tersebut,” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) yang juga orang tua siswa, HM (32), menjadi korban penganiayaan terhadap salah satu guru di Sekolah TK Mulia Islam yang beralamat di Kelurahan Lalodati, Kecamatan Puuwatu, Kota Kendari.
Peristiwa ini bermula saat korban membaca pesan digrup WhatsApp orang tua siswa yang dikirim oleh guru berinisial AI. Menurut korban, kalimat tersebut sangat tidak wajar.
Tepat pada Kamis (30/4/2026) sekitar pukul 10.15 WITA, korban datang sekolah untuk menjemput anaknya sekaligus meminta klarifikasi terkait kalimat AI.
Kepada media ini, HM mengatakan AI sempat memanggil korban untuk berkomunikasi di ruangannya, namun korban menolaknya.
AI lalu menarik tangan korban hingga terjatuh. Ditempat yang sama orang tua siswa lainnya merekam percakapan tersebut, namun AI tak terima dan menunjuk-nunjuk perekam.
Disaat itu pula, korban menghalau tangan AI agar tidak menunjuk orang tua siswa yang merekam percakapan. Akibat tersulut emosi, AI sontak menampar wajah korban hingga memar. (**)
Comment