Alumni Nilai Konflik Dualisme Rektor Unsultra Ganggu Proses Akademik

KENDARI, EDISIIDONESIA.id – Alumni angkat bicara mengenai polemik dua Rektor di Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra), Rabu (4/2/2026).

Alumni Unsultra Adi Maliano mengatakan bahwa polemik ini tentunya berdampak pada proses kegiatan akademik. Salah satunya seperti pelaksanaan ujian akhir studi, Direktur Pascasarjana La Ode Bariun yang sebelum telah diganti Saprudin dari kubu Nur Alam masih melakukan aktivitas akademik.

“Jelas terganggu seperti teman-teman mau ujian, misalnya Direktur Pascasarjana itu kan masih mengganggap dirinya sebagai Direktur Pascasarjana. Makanya dia masih laksanakan ujian versinya dia beda juga yang lain,” kata Adi saat ditemui media ini di Unsultra.

Lanjut, kata dia, meskipun informasi yang beredar jabatan Direktur Pascasarjana telah berpindah ke Saprudin, namun tidak mendapat pengakuan dari pejabat lama, La Ode Bariun.

Mantan Presiden Mahasiswa (Presma) Unsultra itu menambahkan berdasarkan pengetahuannya, rektor yang hingga saat ini masih terdaftar secara resmi di LLDikti adalah Andi Bahrun.

Selain itu, ia menegaskan bahwa konflik ini akan segera berakhir setelah adanya pengakuan legalitas dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah IX.

“Kalau kami pandangannya, kita acuannya siapa yang terdaftar dan teregistrasi di LLDikti. Jadi siapa yang mendapat pengesan dari LLDikti maka di situlah kita berikan support,” tutupnya.

Polemik dualisme rektor di Unsultra ini pun kian menjadi sorotan publik di Sulawesi Tenggara (Sultra), seiring kekhawatiran akan terganggunya stabilitas dan kualitas proses pendidikan di perguruan tinggi tersebut. (**)

Comment