KONSEL, EDISIINDONESIA.id – Kuasa hukum Abdul Salam, pekerja PT Marketindo Selaras, mengungkap kronologi dugaan percobaan pembunuhan yang dialami kliennya di Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra). Peristiwa tersebut diduga dilakukan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan masyarakat tani Angata.
Kuasa hukum korban sekaligus perwakilan keluarga, Muhammad Fadri Laulewulu, menjelaskan insiden itu terjadi saat Abdul Salam bersama sejumlah rekannya dalam perjalanan menuju lahan perusahaan tempat mereka bekerja.
Namun, di tengah perjalanan, rombongan korban tiba-tiba dihadang oleh massa berjumlah sekitar 30 hingga 40 orang yang datang dari arah perbukitan.
“Kelompok tersebut secara tiba-tiba melakukan penyerangan dengan melempar batu dan busur ke arah korban dan rekan-rekannya,” kata Fadri dalam keterangannya, Selasa (3/2/2026).
Akibat serangan mendadak itu, Abdul Salam dan rekan-rekannya panik dan berusaha mundur untuk menghindari serangan lanjutan. Nahas, korban lebih dulu terkena lemparan batu di bagian kepala hingga kehilangan keseimbangan dan terjatuh dari sepeda motor.
Dalam kondisi tidak berdaya, sekitar delapan hingga sepuluh orang diduga mendekati korban dengan membawa senjata tajam jenis parang. Para pelaku kemudian melakukan penganiayaan dengan menyabetkan parang ke arah korban, sehingga mengakibatkan luka serius di bagian tangan dan paha.
“Penyerangan itu sangat tidak terukur dan jelas berpotensi menghilangkan nyawa korban. Jika tidak ada pihak lain yang menghalau dan memberikan pertolongan, akibatnya bisa jauh lebih fatal,” tegas Fadri.
Akibat kejadian tersebut, Abdul Salam mengalami luka di beberapa bagian tubuh. Korban sempat mendapatkan perawatan awal di Puskesmas Mowila sebelum akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Bahteramas Kendari karena kondisi lukanya yang cukup parah.
Lebih lanjut, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Sultra menyesalkan sikap para terduga pelaku yang justru mendatangi Polda Sultra pascakejadian. Menurut LBH, langkah tersebut dinilai sebagai bentuk play victim, seolah-olah menjadi pihak yang dirugikan, padahal diduga kuat merupakan pelaku utama penganiayaan.
“Kami berharap Polda Sultra bertindak profesional dan objektif serta segera memproses laporan klien kami, agar para pelaku dapat ditangkap dan korban memperoleh keadilan,” tutup Fadri.(**)
Comment