EDISIINDONESIA.id- Orang paling keras kepala sering kali adalah mereka yang sedang jatuh cinta. Dinasehati tak mempan, diingatkan pun percuma. Seperti yang dialami oleh Karin, 37 tahun, beberapa tahun yang lalu. Karena kegigihan cintanya terhadap Donwori, 40 tahun, Karin nekat meminta mereka dinikahkan. Namun, keluarga Karin tidak setuju dengan pernikahan itu karena mereka menganggap ada pertentangan hitungan yang tidak cocok.
Alasan-alasan seperti weton (perhitungan jawa), posisi rumah, dan arah wilayah antara Karin dan Donwori dianggap tidak sesuai. Karin dan Donwori merupakan pasangan yang lahir pada hari yang sama. Menurut kepercayaan Jawa, jika aturan-aturan ini dilanggar, maka akan menimbulkan malapetaka.
Keluarga Karin masih sangat menghormati dan memegang teguh tradisi seperti ini. Bahkan Karin sendiri juga tidak terlepas dari kepercayaan dan tradisi tersebut. Dia selalu meminta bantuan dukun keluarganya dalam segala urusan, mulai dari ujian sekolah, mencari pekerjaan, hingga hal-hal sepele seperti mencari barang yang hilang. Setiap tahun, Karin juga mengikuti ritual-ritual kejawen.
Namun, cinta membuat Karin tetap keras kepala. Dia tidak menerima penghalang pernikahannya dengan alasan klenik yang dianggapnya tidak masuk akal. Karin tidak terima Donwori dianggap membawa malapetaka dalam rumah tangga mereka. Baginya, Donwori adalah kekasih yang sangat pengertian. “Saya tidak takut dengan semua itu. Pada akhirnya, nasibku berakhir di pengadilan juga kan,” kata Karin di kantor pengacara, yang berada di dekat Pengadilan Agama Kelas 1A Surabaya.
Setelah 15 tahun berlalu, larangan pernikahan itu akhirnya menunjukkan kebenarannya. Rumah tangga Karin dan Donwori dilanda kekacauan karena kehadiran pihak ketiga. Suami yang dia cintai selingkuh dengan saudara Karin sendiri, yang memalukan Karin dan keluarganya. Saat ini, Karin baru menyesali kekerasan hatinya karena cinta.
Namun, pada awal pernikahan, tidakkah Karin sudah dihadang dengan keras? Mengapa pada akhirnya mereka berdua bisa menikah? Kembali ke 16 tahun yang lalu.
Karena keinginannya yang kuat untuk menikah, Karin memberontak. Dia kabur bersama Donwori selama beberapa hari. Aksi ini dilakukan oleh Karin setelah berbulan-bulan mogok bicara dengan orang tuanya yang tidak membuahkan hasil. Akhirnya, orang tua Karin luluh dan mengizinkan mereka menikah, dengan mengabaikan larangan-larangan tradisional tersebut. “Awalnya aku ragu, tapi aku ingin membuktikan bahwa larangan-larangan itu salah, hanya mitos.(edisi/radarsby)
Comment