EDISIINDONESIA.id – Indonesia baru saja memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) RI yang ke-77, namun kemiskinan masyarakat hingga kini masih menjadi persoalan pemerintah yang belum tuntas di negara ini.
Data Badan Pusat Statistik menyebut, angka kemiskinan Maret 2022 memang menurun 0,06 persen dibandingkan bulan Maret 2021. Namun bukan berarti kemiskinan hilang di Indonesia.
Hal tersebut diungkapkan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Bambang Soesatyo (Bamsoet) saat berpidato pada peringatan Hari Konstitusi, di Gedung Nusantara IV, Komplek Parlemen, Jakarta, Kamis (18/8/2022).
“Upaya penanggulangan kemiskinan sudah mencapai titik jenuh. Permasalahan penduduk miskin yang masih tersisa seperti ‘kerak-kerak’ yang sulit untuk dihilangkan,” ucap Bambang Soesatyo.
Yang tidak kalah penting, kata Ketua MPR RI, adalah percepatan kemajuan yang masih memerlukan perbaikan menyeluruh. Indonesia bahkan jauh tertinggal dari Korea Selatan.
“Tingkat percepatan kemajuan Korea Selatan yang kemerdekaannya hanya terpaut dua hari dengan Indonesia, sudah masuk kategori negara maju,” kata Bamsoet.
Pada dasarnya, Indonesia memiliki seluruh persyaratan untuk menjadi negara maju. Mulai dari jumlah penduduk yang besar, sumber daya alam melimpah, potensi ekonomi maritim dan kelautan yang tidak terhingga, hingga letak geografis yang strategis.
Bahkan tahun 2045, penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 318,9 juta jiwa. Dengan jumlah populasi yang sangat besar dan potensi ekonomi yang mumpuni, Indonesia diproyeksikan menjadi negara dengan ekonomi terbesar keempat di dunia.
“Untuk meraihnya, kita harus bangkit lebih kuat mempertahankan warisan baik bangsa, menjadikan konstitusi sebagai landasan bagi kebangkitan ekonomi Indonesia, serta mau belajar dan mengerti jalannya logika negara lain yang telah lebih cepat maju,” pungkasnya. (edisi/rmol)
Comment