SMAN 1 Lohia Laksanakan Pelatihan Implementasi Kurikulum Merdeka

MUNA, EDISIINDONESIA.id – Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Lohia yang merupakan sekolah penggerak melaksanakan kegiatan pelatihan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) bagi para guru SMAN 1 Lohia, Kamis (30/6/2022).

Ketua panitia kegiatan, La Ode Safiruddin, mengatakan pelatihan tersebut bertujuan agar setiap peserta dapat memahami, menganalisis dan mampu menyusun kerangka kurikulum operasional disatuan pendidikan.

“Kerangka kurikulum operasional satuan pendidikan itu misalnya setiap guru mampu menyusun visi misi, kemudian dapat menurunkan capaian pembelajaran, menjadi tujuan pembelajaran dan dari itu setiap guru mampu menyusun alur pembelajarannya sendiri,” jelasnya

Dia menambahkan, lalu menyusun perangkat ajarnya, yang terdiri dari modul ajar dan perangkat lainnya, untuk mendukung proses kegiatan serta bisa melakukan pengorganisasian pembelajaran.

Disamping itu, kata Safiruddin, guru juga diharapkan mampu memahami bagaimana membuat perencanaan penguatan project pembelajaran profil pancasila.

“Ini yang terpenting karena ini yang membedakan dengan kurikulum 2013. Dan tentu guru mampu memodifikasi sesuai dengan kebutuhan murid serta sekolah. Sebab, nanti SMAN 1 Lohia pasti akan berbeda karakteristik dengan sekolah lain sehingga nanti kami bisa memiliki ciri khas tersendiri,” katanya.

Kemudian, sambung dia, kurikulum merdeka dalam hal materi secara signifikan sebenarnya ada beberapa yang berubah. Misalnya tidak ada lagi pemisahan antara kelompok IPA dan IPS. Seperti mata pelajaran Biologi, Kimia, fisika tergabung dalam satu mata pembelajaran yang terintegrasi kedalam rumpun IPA.

“Begitupun dengan IPS, ditambah dengan profit penguatan pembelajaran pancasila ditambah dengan kembali dimasukan mata pelajaran TIK,” paparnya.

Harapannya dari pelaksanaan kegiatan ini, dia menandaskan, dari kurikulum merdeka sendiri siswa dapat mengadaptasi diri dengan perkembangan teknologi yang ada, karena pendidikan dibangun sesuai dengan kodrat dan perkembangan zaman.

“Guru mampu menyerap materi kegiatan sehingga dapat menjawab tantangan zaman. Kemudian guru-guru bisa meningkatkan kompetensi, proses pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan murid. Sehingga, guru harus menjawab tantangan itu dengan meningkatkan kompetensi utamanya dalam penggunaan platform PMM atau teknologi yang disediakan untuk menjadi teman penggerak bagi pendidik dan kepsek dalam mengajar, belajar dan berkarya,” pungkasnya.

Sementara Kepala Sekolah (Kepsek) SMAN 1 Lohia, Achmad Djaya Adi berpesan kepada para guru agar kegiatan ini betul-betul dimanfaatkan karena kegiatan ini sesungguhnya untuk menghadapi dan mengimplementasikan kurikulum baru(kurikulum merdeka).

“Status yang disandang oleh SMAN 1 Lohia sebagai sekolah penggerak merupakan tantangan bisa juga menjadi peluang bagi sekolah. Dimana bisa mentransformasi pengetahuannya bahwa pembelajaran yang dilakukan selama ini harus dimodifikasi disesuaikan dengan kondisi zaman,” tuturnya.

Zaman hari ini, kata dia, tidak lagi berbasis manual tapi sudah berbasis digital. Ini harus dijemput oleh sekolah, sehingga pembelajaran bisa berbasis pembaharuan zaman atau digital.

“Karena SMAN 1 Lohia sebagai sekolah penggerak, maka dituntut oleh pihak Kementerian mampu berbagi dengan sekolah lain. Sehingga, harapan kita dari pelatihan ini, teman-teman guru bisa menghasilkan prodak, yang bisa dibagikan dengan sekolah lain, sebagai bahan rujukan atau referensi dalam menerapkan implementasi kurikulum merdeka sebab tanggung jawab itu ada di SMAN 1 Lohia,” katanya.

“Ini harus diikuti dengan baik, agar prodak yang dihasilkan benar-benar berkualitas ketika dijadikan referensi bagi sekolah-sekolah lain,” Kepsek melanjutkan.

Karena prodak dari kegiatan ini nanti akan dishare di platform PMM, terang kepsek, Jadi pihaknya akan membagi apa yang telah dihasilkan dari IKM yang akan dilihat oleh seluruh sekolah di Indonesia,

“Kurikulum baru ini masih diprioritaskan bagi kelas X, atau dalam kurikulum baru tidak lagi mengenal kelas namun menggunakan kata fase e bagi kelas X dan fase f bagi kelas XI dan XII,” jelasnya.

Sementara pengawas managerial SMAN 1 Lohia, Syarifuddin juga berpesan pada para guru untuk betul-betul mampu merubah maindset dari pendidikan model lama ke masa sekarang yang dalam program guru penggerak.

“Yah ketika bisa berubah, dia harus bisa sadar dengan sendirinya bahwa ini adalah suatu kebutuhan. Tidak berubah karena dirubah. Kalau dirubah itu berarti semacam ada paksaan,” pesannya.

“Mudah-mudahan kedepan bersama pengawas, kepala sekolah dan guru bisa berkolaborasi memajukan SMAN 1 Lohia.” tandasnya. (**)

Comment