Hasil Nyata Program Cetak Sawah di Papua: Masyarakat Adat Merasakan Manfaatnya

EDISIINDONESIA.id- Program pengembangan dan pencetakan sawah di Papua mulai menunjukkan hasil yang dirasakan langsung oleh masyarakat adat selaku pemilik hak ulayat. Salah satu ungkapan optimisme datang dari Christoforus A. Mahuse, yang menyatakan dirinya semakin yakin untuk mengembangkan usaha pertanian setelah berhasil melakukan panen perdana di lahan yang dikembangkan pemerintah.

Dalam sebuah rekaman video yang tersebar di media sosial, Christoforus menjelaskan bahwa seluas sekitar 571 hektare tanah hak ulayat di wilayahnya telah diolah menjadi areal persawahan. Ia sekaligus membantah berbagai tudingan yang menyebut pembukaan lahan tersebut dilakukan dengan cara membabat hutan secara besar-besaran.
“Tidak ada pembabatan hutan yang dilakukan,” tegas Christoforus seperti disampaikan pada Minggu (21/6/2026).
Ia menegaskan bahwa sebelum program ini dimulai, pemerintah terlebih dahulu meminta persetujuan penuh dari masyarakat pemilik hak ulayat. Setelah melalui proses kesepakatan bersama, warga setuju untuk memanfaatkan lahannya sebagai kawasan pertanian. Status kepemilikan tanah pun tidak berubah dan tetap menjadi milik masyarakat adat, sementara seluruh hasil pertanian yang diperoleh dapat dinikmati sepenuhnya oleh warga setempat.

Pemerintah memberikan dukungan berupa bantuan pembukaan lahan menggunakan alat berat, penyediaan alat dan mesin pertanian, benih unggul, hingga berbagai sarana produksi lainnya.
“Saya menyikapi hal ini dengan positif karena memang ingin maju dan mengembangkan usaha bertani, khususnya menanam padi,” ujarnya.

Menurut Christoforus, tanpa dukungan tersebut, masyarakat akan kesulitan membuka serta mengelola lahan dalam skala luas. “Saya berterima kasih kepada pemerintah yang telah membantu membuka lahan, mencetak sawah, hingga kami bisa menikmati hasil panennya,” tambahnya. Ia juga memastikan tidak ada satu pun tanah hak ulayat yang diambil alih oleh pemerintah dalam program ini.

Dukungan dan Harapan Masyarakat di Sarmi

Dukungan terhadap program serupa juga disampaikan oleh Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kampung Ketom Jaya, Distrik Bonggo, Kabupaten Sarmi, Michael M. Kubuan. Setelah bertemu dengan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta, ia menyatakan program ini membawa harapan dan optimisme baru bagi masyarakat adat di wilayahnya.

Saat ini, areal pertanian yang sedang dikembangkan di Distrik Bonggo telah mencapai sekitar 600 hektare. Ia berharap keberadaan sawah ini dapat meningkatkan taraf hidup warga sekaligus menjadi aset produktif yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Sebagai pemilik hak ulayat, Michael mengajak seluruh warga untuk bersatu mendukung jalannya pembangunan sektor pertanian tersebut. “Saya mengajak seluruh keluarga adat untuk bergandengan tangan dan bahu-membahu menyukseskan program ini di Kabupaten Sarmi,” ujarnya.

Ia juga merasakan langsung manfaat bantuan alat pertanian yang diberikan. Jika sebelumnya mengolah tanah harus dilakukan secara manual dengan cangkul dan parang yang memakan waktu lama, kini pekerjaan menjadi jauh lebih cepat dan efisien. “Dengan bantuan alat bajak, satu hari kami bisa mengolah lahan seluas hingga tiga hektare,” jelasnya.

Langkah Menuju Kemandirian Pangan Papua

Program pencetakan sawah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat ketahanan dan mewujudkan kemandirian pangan di wilayah timur Indonesia. Targetnya adalah agar masyarakat Papua dapat memenuhi kebutuhan berasnya sendiri dari hasil produksi daerah.

Selama ini, sebagian besar kebutuhan beras di Papua masih dipasok dari luar daerah. Kondisi geografis dan biaya pengiriman yang tinggi membuat harga beras di sejumlah wilayah menjadi cukup mahal. Dengan bertambahnya luas lahan pertanian dan meningkatnya hasil panen, diharapkan akses terhadap pangan menjadi lebih mudah dan terjangkau harganya.

Selain mendukung produksi pangan nasional, program ini juga bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani lokal dengan tetap menjamin kepemilikan lahan berada di tangan masyarakat adat. Keberhasilan panen perdana di beberapa lokasi menjadi sinyal positif bahwa pengembangan pertanian di Papua mulai memberikan manfaat nyata bagi warga setempat, sekaligus membuka jalan menuju kemandirian pangan daerah.(edisi/fajar)

Comment