Mahasiswa Geologi FMIPA UHO Ditemukan Meninggal di Asrama, Ini Kata Dekan FMIPA

KENDARI, EDISIINDONESIA.id – Civitas akademika Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari digegerkan dengan penemuan mayat mahasiswa Teknik Geologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) di Asrama Putra Bidik Misi.

Jasad Reyfudin ditemukan dalam keadaan telungkup, di kamar nomor 4 Asrama Bidik Misi UHO Kendari, sekira pada pukul 10.00 WITA, Rabu (21/6/2023).

Dekan FMIPA UHO Kendari, Ida Usman mengatakan informasi yang diperoleh dari pengelola asrama, almarhum (Alm) Reyfudin tidak memiliki riwayat sakit bawaan.

Bahkan, kata dia sampai semalam pun Alm. Reyfudin dipastikan masih berada didalam kamarnya. Bahkan, pekan lalu Alm masih mengikuti kuliah lapangan bersama dengan mahasiswa lainnya.

“Tapi kalau info dari ketua jurusan anak ini orangnya tertutup, kemungkinan ada sakitnya tapi tidak diketahui. Dipendam sendiri,” ungkapnya saat ditemui diruang kerjanya, Rabu (21/6/2023).

“Kemungkinan meninggal pukul 12 malam keatas. Kalau orang meninggal diatas 6 jam itu kan sudah berbau,” tambahnya.

Ida juga menyampaikan, dari hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) yang dilakukan pihak kepolisian memang didapatkan sejumlah obat-obatan. Namun menurutnya, mahasiswa asal Buton Utara itu bukan meninggal karena keracunan obat.

Apalagi, dari bukti foto obat yang didapatkannya hanya merupakan jenis obat pereda nyeri.

“Kalau saya tidak mengarah kesana, karena foto obatnya juga saya dikirimkan. Setelah saya cek itu obat nyeri, bisa untuk sakit gigi. Kemungkinan bukan karena itu, memang ada 2 biji yang sudah diminum, tapi tidak mungkinlah kelebihan dosis. Mungkin karena faktor yang lain,” jelasnya.

Selain itu, ia juga mengungkapkan usai penemuan mayat tersebut pihak universitas tidak bisa berbuat banyak, lain halnya jika Alm. Reyfudin merupakan korban kekerasan. Tentunya pihak universitas akan melakukan berbagai upaya untuk mengusut kasus tersebut.

“Tapi dari olah TKP tadi tidak ada tanda-tanda kalau dia (Alm. Reyfudin) meninggal karena kekerasan,” bebernya.

“Tadi jasadnya masih dibawa di Rumah Sakit Bhayangkara, menunggu keluarganya apakah pihak rumah sakit melakukan visum atau tidak. Itu kan tergantung keluarganya, tapi dari olah TKP kayanya tidak perlu divisum karena tidak ada tanda-tanda kekerasan. Jadi pihak kampus mengembalikan ke keluarganya,” tutupnya. (**)

Comment