EDISIINDONESIA.id — Suhu udara yang panas beberapa waktu belakangan termasuk hari ini (23/4) dikeluhkan oleh warga Indonesia.
Apakah udara panas yang dikeluhkan masyarakat di Indonesia dampak dari gelombang panas yang menerjang wilayah di Asia?
Gelombang panas terjadi di sejumlah negara di Asia. Suhu udara di Luang Prabang, Laos, mencapai 42,7 derajat celcius. Itu merupakan rekor terpanas di negara tersebut.
Thailand juga mengalami gelombang panas dengan suhu udara mencapai 45 derajat celcius hingga akhir pekan ini. Ini untuk pertama kalinya negara berjulung Negeri Gajah Putih itu mengalami gelombang panas. Bahkan, daerah Bang Na, Bangkok, suhu udara panas mencapai 52,3 derajat celsius.
Di Malaysia, cuaca panas dan berkabut diperkirakan berlangsung dalam jangka waktu yang lumayan lama. Menteri Kesehatan dr Zaliha Mustafa meminta penduduk mengambil tindakan pencegahan. Termasuk harus menghemat air.
’Masyarakat harus membatasi aktivitas fisik dan waktu di luar rumah saat cuaca panas yang dapat menimbulkan penyakit,’’ ujar Zaliha seperti dikutip The Straits Times kemarin (20/4).
Suhu yang sangat panas juga telah menyebar luas di seluruh Tiongkok. Menurut ahli klimatologi Jim Yang, pada Senin (17/4) lebih dari 100 stasiun cuaca di 12 provinsi memecahkan rekor suhu pada April.
Di seluruh Asia Selatan seperti Pakistan, India, Nepal, dan Bangladesh, semuanya mengalami suhu yang mencapai 40 derajat Celsius selama beberapa hari.
Prakirawan cuaca BMKG Nurul Izzah Fitria dilansir dari Jawa Pos kemarin memastikan, Indonesia tidak akan terpapar gelombang panas. Menurut dia, gelombang panas terjadi di lintang menengah dan tinggi. ’’Sementara kita berada di lintang tropis,” ujarnya.
Gelombang panas itu biasanya terjadi di Asia Tengah, Amerika, dan Eropa. Sementara, Indonesia berada di ekuator. ’’Selain itu, reliabilitas perubahan cuaca di Indonesia sangat cepat,” bebernya.
Suhu panas di beberapa daerah di Indonesia saat ini terjadi karena gerak semu matahari sedang melewati ekuator. Geraknya dari selatan ke utara. ’’Dan ini sedang pas di atas Indonesia,” ungkapnya.
Apalagi, tutupan awan di Indonesia sedikit. ’’Apakah ini menyebabkan peningkatan suhu secara ekstrem? Saya rasa tidak, mungkin hanya meningkat 1 derajat Celsius,” imbuhnya.
Indonesia masuk pancaroba sehingga akan panas antara Agustus akhir sampai Oktober. ’’Hujan ringan dan petir ada, tapi singkat,” ujarnya.
Jadi, lanjut dia, masyarakat tidak perlu risau. Meski, pada Juni atau Juli intensitas hujan bakal semakin jarang. (Ei/fajar)
Comment