KENDARI, EDISIINDONESIA.id– Suasana politik akademik di lingkungan Universitas Halu Oleo (UHO) mulai memanas seiring resmi dimulainya tahapan Pemilihan Rektor (Pilrek) untuk masa bakti 2026–2030.
Satu per satu nama tokoh kampus mulai melangkah dan menempatkan diri dalam kontestasi memperebutkan jabatan puncak di perguruan tinggi terbesar di Sulawesi Tenggara ini. Salah satu nama yang langsung mencuri perhatian dan menjadi sorotan utama adalah Prof. Ruslin, S.Pd., M.Si.
Akademisi senior yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Farmasi ini secara resmi menyerahkan berkas pendaftaran sebagai bakal calon rektor di Sekretariat Panitia Pilrek UHO pada Senin, 18 Mei 2026.
Di kalangan civitas akademika, langkah yang diambil Prof. Ruslin ini tidak sekadar dipandang sebagai urusan administrasi atau formalitas belaka. Banyak pihak menilai kehadirannya dalam bursa pemilihan ini sebagai sinyal kuat dimulainya sebuah “pertarungan poros intelektual” yang menarik di internal kampus.
Berbeda dengan kontestasi politik umum yang seringkali ramai dengan atribut dan kampanye terbuka, Pilrek memiliki dinamika tersendiri.
Tidak ada konvoi massa atau baliho raksasa, namun lobi pengaruh, konsolidasi dukungan, pemetaan kekuatan di lingkungan Senat Akademik, serta pembentukan opini di ruang-ruang diskusi akademik menjadi bagian dari proses yang berjalan senyap namun intens.
Di tengah peta persaingan yang mulai terbentuk, nama Prof. Ruslin disebut-sebut sebagai salah satu figur yang memiliki “modal sosial akademik” yang sangat kuat dan mumpuni.
Sosok kelahiran Desa Latugho, Kecamatan Lawa, Kabupaten Muna Barat ini bukanlah wajah baru di lingkungan UHO. Ia tumbuh dan berkembang bersama kampus ini. Sejak tahun 1994, seluruh perjalanan pendidikan dan kariernya ia bangun di Universitas Halu Oleo, dimulai dari Program Studi Pendidikan Kimia.
Gelar sarjana, magister, hingga jabatan Guru Besar di bidang Farmasi dan Kimia Medisinal diraihnya dari almamater yang sama. Latar belakang ini sering disebut sebagai “akar ideologis akademik”, di mana sosok yang lahir dan dibesarkan dari rahim kampus sendiri umumnya dipandang lebih memahami budaya kerja, birokrasi, serta dinamika psikologis dan kelembagaan yang ada.
Namun, pemilihan rektor tidak hanya bicara soal rekam jejak akademik semata. Kontestasi ini juga menjadi ajang uji kepemimpinan, luasnya jaringan, serta kemampuan meramu dan membangun koalisi gagasan. Dalam konteks ini, Prof. Ruslin juga dinilai memiliki bekal pengalaman organisasi yang tidak sedikit dan telah teruji.
Sejak masa menjadi mahasiswa, ia dikenal aktif dalam organisasi Resimen Mahasiswa (Menwa). Karir organisasinya terus menanjak mulai dari Wakil Komandan Batalyon hingga dipercaya menjabat sebagai Komandan Resimen Mahasiswa Wilayah Sulawesi Tenggara.
Pengalaman ini kemudian membentuk karakter kepemimpinannya yang dikenal tegas, disiplin, serta memiliki pola pikir yang terstruktur dan strategis.
Setelah resmi menjadi dosen tetap di Fakultas Farmasi, kemampuannya kembali diakui dan dipercaya memimpin fakultas tersebut sebagai Dekan. Di bawah kepemimpinannya, ia dikenal gencar mendorong penguatan riset, peningkatan kualitas publikasi ilmiah, serta pengembangan standar akademik yang lebih baik bagi kemajuan kampus.
Secara keilmuan, Prof. Ruslin juga tercatat sebagai peneliti yang sangat produktif, khususnya dalam pengembangan ilmu farmasi dan kimia medisinal yang berbasis pada potensi sumber daya alam lokal Sulawesi Tenggara.
Masuknya nama Prof. Ruslin ke dalam bursa calon rektor kini memicu berbagai spekulasi dan perbincangan hangat di lingkungan kampus. Banyak pihak menilai, kontestasi kali ini bukan sekadar soal siapa yang akan memenangkan jabatan, melainkan tentang arah kebijakan dan masa depan UHO dalam menghadapi persaingan antarperguruan tinggi yang kian ketat dan kompleks.
Saat ini, UHO dihadapkan pada berbagai tantangan besar, mulai dari peningkatan mutu riset, penguatan jejaring internasionalisasi kampus, pengembangan inovasi, hingga tuntutan tata kelola yang modern berbasis teknologi digital dan kolaborasi lintas negara. Oleh karena itu, Pilrek 2026–2030 diprediksi akan menjadi ajang pertarungan gagasan dan visi strategis, bukan sekadar perebutan kursi jabatan administratif.
“Yang dibutuhkan UHO ke depan bukan hanya sosok administrator yang mampu menjalankan roda organisasi, melainkan arsitek akademik yang memiliki wawasan luas dan mampu membaca arah perkembangan pendidikan tinggi di masa depan,” ungkap salah satu dosen senior UHO.
Dalam bahasa politik kampus, momen ini disebut sebagai fase “perebutan pengaruh moral dan intelektual”. Figur yang mampu membangun kepercayaan dari berbagai elemen, baik anggota senat, civitas akademika, maupun mitra kerja eksternal, akan memiliki peluang terbesar untuk memimpin kampus.
Dengan dukungan rekam jejak akademik yang kokoh, pengalaman kepemimpinan yang matang, serta pengaruh yang kian meluas, Prof. Ruslin kini telah menjadi salah satu figur yang sangat diperhitungkan dalam persaingan memperebutkan kursi Rektor UHO periode 2026–2030.(**)
Comment