Mengamuk! Iran Serang Infrastruktur Energi AS dan Sekutu di Kawasan Teluk

EDISIINDONESIA.id – Serangan Iran terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk pada Selasa (3/3/2026) memicu gangguan produksi serta mendorong kenaikan harga komoditas global.

Serangan terjadi di sejumlah negara sekutu Amerika Serikat (AS), termasuk Qatar, Oman, dan Uni Emirat Arab. Iran disebut memperluas targetnya, tidak hanya menyasar aset Amerika Serikat tetapi juga fasilitas energi di kawasan tersebut.

Perusahaan energi milik negara Qatar, QatarEnergy, menghentikan sebagian produksi hilir setelah dua fasilitas pengolahan gas diserang. Produksi yang terdampak mencakup urea, polimer, metanol, serta aluminium.

Pengumuman tersebut langsung mendorong harga aluminium di London Metal Exchange naik sekitar 2%.

Iran sebelumnya memperluas sasaran serangan dalam konflik dengan Amerika Serikat dan Israel dengan menargetkan infrastruktur di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar.

Juru bicara kementerian luar negeri Qatar, Majed al-Ansari, mengatakan rudal Iran juga menargetkan bandara Doha. Namun, proyektil tersebut berhasil dicegat oleh militer.

Sementara itu di Oman, sejumlah drone menyerang pelabuhan Duqm di pantai timur negara tersebut. Menurut sumber keamanan yang dikutip Oman News Agency, kerusakan yang terjadi dapat dikendalikan dan tidak menimbulkan korban jiwa.

Serangan tersebut merupakan yang kedua dalam tiga hari terakhir terhadap pelabuhan itu.

Sebelumnya pada Minggu (1/3/2026), seorang pekerja terluka ketika dua drone menghantam lokasi yang sama. Satu drone mengenai area akomodasi pekerja, sementara puing drone lainnya jatuh di dekat tangki bahan bakar.

Ini juga menjadi serangan pertama terhadap Oman sejak konflik meletus, meskipun negara tersebut sebelumnya berperan sebagai mediator antara Iran dan Amerika Serikat.

Oman juga menembak jatuh dua drone lainnya, sementara satu drone jatuh di dekat pelabuhan Salalah, menurut laporan media pemerintah.

Di Uni Emirat Arab, puing drone yang berhasil dicegat memicu kebakaran di zona penyimpanan dan perdagangan minyak di emirat Fujairah. Otoritas setempat menyatakan tidak ada korban luka dan kebakaran berhasil dikendalikan sehingga aktivitas kembali normal.

Uni Emirat Arab menyebut negaranya telah menjadi sasaran lebih dari 800 drone dan hampir 200 rudal sejak perang pecah.

QatarEnergy, salah satu eksportir gas alam cair terbesar dunia, sebelumnya juga menghentikan produksi LNG setelah dua fasilitasnya diserang drone. Gangguan tersebut memicu lonjakan harga gas di pasar Eropa.

Analis dari ING Group menilai penghentian produksi aluminium akan menambah tekanan pada pasar global.

Menurut mereka, ketegangan di Timur Tengah meningkatkan risiko terhadap pasokan aluminium dunia. Sekitar 8% produksi global berada di kawasan Teluk dan sangat bergantung pada jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.

Seorang jenderal dari Korps Garda Revolusi Islam Iran sebelumnya bahkan mengancam akan membakar kapal mana pun yang mencoba melintasi Selat Hormuz, jalur vital bagi pengiriman minyak dan gas dunia. (edisi/bs)

Comment