BANGLI, EDISIINDONESIA.id — Desa Wisata Penglipuran di Kabupaten Bangli dikenal sebagai salah satu desa terbersih di dunia.
Desa seluas 112 hektare ini kembali mendunia pada 2023 setelah dinobatkan United Nations World Tourism Organization (UNWTO) sebagai salah satu dari 54 Best Tourism Villages.
Penghargaan itu diberikan berkat komitmen kuat masyarakat Penglipuran menjaga kebersihan, tata ruang, dan kearifan lokal dalam pariwisata berbasis budaya.
Kesuksesan Penglipuran menarik perhatian Pemerintah Kota Kendari. Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, bersama sejumlah camat dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kota Kendari melakukan kunjungan lapangan untuk mempelajari langsung tata kelola kebersihan dan manajemen lingkungan di desa tersebut.
Rombongan Pemkot Kendari diterima Kepala Dinas PMD Kabupaten Bangli, I Dewa Agung Putu Purnama, bersama tokoh masyarakat Penglipuran, I Ketut Budiarsih.
Selama kunjungan, Wali Kota Kendari bersama rombongan menelusuri kawasan desa dan menyaksikan langsung sistem pengelolaan lingkungan yang berbasis peran aktif warga.
“Desa Penglipuran menjadi contoh bahwa kebersihan bukan slogan, tapi budaya. Ini yang ingin kami tiru dan terapkan di Kendari,” kata Siska Karina Imran.
I Dewa Agung Putu Purnama menjelaskan budaya bersih di Penglipuran dijaga melalui berbagai program berkelanjutan seperti Gerakan Serentak Pemilahan Plastik (Gertak Plastik), Arisan Sampah PKK, dan kolaborasi Bank Sampah bersama sektor swasta.
“Kesadaran warga tidak lahir dalam semalam. Butuh pembiasaan, kedisiplinan, dan contoh dari tokoh adat serta pemerintah,” ujarnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat Penglipuran, I Ketut Budiarsih, menegaskan keberhasilan desa mereka bertumpu pada nilai kearifan lokal.
“Yang membuat Penglipuran istimewa bukan hanya kebersihannya, tapi kejujuran dan rasa memiliki warganya. Itu modal utama,” ucapnya.
Desa Penglipuran memiliki aturan adat (awig-awig) yang tegas, termasuk larangan menebang pohon sembarangan, larangan poligami, serta kewajiban membersihkan lingkungan setiap hari.
Budaya menyapu jalan di tiap pagi menjadi tradisi turun-temurun yang membentuk kedisiplinan kolektif.
Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya Pemkot Kendari menyiapkan model pengelolaan kebersihan berbasis partisipasi masyarakat untuk diterapkan di ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara tersebut.(**)
Comment