EDISIINDONESIA.id – Perkembangan zaman digital menuntut kemampuan berbicara di depan umum menjadi keterampilan penting. Kemampuan itu tidak hanya relevan bagi pembicara profesional, tetapi memiliki peran besar di dunia konten kreatif.
Sebagai seorang presenter dan konten kreator aktif, Nola Hariadi percaya keahlian berbicara yang baik dapat meningkatkan kualitas seorang kreator konten.
“Banyak yang masih mengira public speaking untuk MC atau pembawa acara, padahal ini adalah keterampilan universal yang mendukung berbagai profesi, terutama yang melibatkan interaksi dengan orang baru,” kata Nola, Sabtu (4/1).
Baginya, publik speaking adalah keterampilan dasar yang memiliki manfaat luas, terutama di dalam dunia konten kreator, dapat memberikan nilai tambah besar bagi konten yang mereka buat. Jenis konten pun beragam, mulai dari edukasi, kuliner, hingga hiburan dan isu sosial.
Menurut Nola, tak ada batasan dalam menjadi konten kreator. Dengan publik speaking yang baik, kualitas konten dapat lebih optimal.
“Teknologi makin maju, dan anak-anak muda banyak yang menjadi influencer atau kreator konten. Kemampuan berbicara yang baik harus menjadi bekal untuk menghadapi audiens meski tidak terlihat langsung,” jelasnya.
Perempuan kelahiran 1997 ini menilai, belajar Public Speaking dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Sebagai langkah awal, dia menyarankan seorang kreator menguasai materi yang akan disampaikan tanpa bergantung pada alat bantu presentasi.
Daripada membaca teks, menurut Nola, akan lebih baik jika informasi disampaikan dengan gaya yang natural, seperti sedang bercerita.
“Jika belum terbiasa, coba mulai seperti berbicara dengan teman. Bayangkan audiens sebagai teman sendiri. Tidak apa-apa logat medok, asal intonasi dan artikulasi jelas,” tuturnya.
Dia juga merekomendasikan latihan lain seperti berbicara di depan cermin, merekam video sendiri, hingga mengikuti kompetisi publik speaking daring.
“Mulai dari latihan kecil di depan kamera sampai berani ikut lomba itu sangat membantu. Kalau ada kesempatan presentasi, ajukan diri untuk tampil. Ini cara efektif meningkatkan kepercayaan diri,” ujarnya.
Nola mengisahkan perjalanan belajarnya yang dimulai sejak masa sekolah dasar. Dia pernah menjadi penyiar radio anak saat kelas VI SD, selain mengikuti kursus formal.
Pengalaman tersebut menjadi fondasi baginya untuk meniti karier sebagai presenter dan Master of Ceremony. Alumnus Ilmu Politik Universitas Airlangga tersebut juga kerap menjadi pembawa acara kampus, pernikahan, hingga presenter televisi.
“Dulu aku sering dikritik, katanya suaraku bindeng atau intonasi terlalu lambat. Tapi berkat latihan yang konsisten, aku akhirnya bisa tampil di televisi pada 2017. Semua itu butuh proses,” ungkap Nola.
Kini, dia berbagi keahliannya lewat konten di media sosial. Ia berharap pengalamannya dapat menginspirasi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mempelajari dan mencintai publik speaking.
“Sebagai konten kreator, aku suka berbicara dan ingin membagikan teknik publik speaking, bahkan saat bikin konten santai seperti kuliner atau beauty, aku tetap memperhatikan intonasi karena ingin mengajak audiens belajar bersama,” pungkasnya. (edisi/jpnn)
Comment