KENDARI, EDISIINDONESIA.id – Kasus dugaan pengeroyokan yang dialami seorang siswa SMPN 4 di Kota Kendari Sulawesi Tenggara (Sultra), RP, menarik perhatian publik.
Korban dilaporkan dikeroyok oleh sejumlah siswa hingga mengalami luka lecet di sekujur tubuh dan trauma mendalam.
Ibunda korban, NI, mengungkapkan bahwa kekerasan ini bukan peristiwa sekali terjadi. Bahkan, menurutnya, aksi serupa dialami anaknya hampir setiap hari. NI mengaku telah menyampaikan hal ini kepada pihak sekolah, namun tidak mendapat respons yang memadai.
“Anakku sudah melapor kepada ibu guru, tapi tidak ditindaklanjuti. Gurunya hanya bilang bahwa itu hanya main-main,” ujar NI, pada Kamis (21/11/2024).
Lanjut, NI mengatakan bahwa para pelaku tidak hanya melakukan kekerasan fisik, tetapi juga mengancam akan membully dan memukul jika korban melapor. Bahkan, perbuatan tersebut dilakukan secara berulang tanpa adanya efek jera.
“Kemaluannya anakku digesek-gesek pakai kaki mereka,” ungkapnya.
Ia berharap pihak sekolah segera mengambil tindakan tegas terhadap para pelaku agar kejadian serupa tidak terulang. NI juga mengaku telah melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian.
“Saya sudah buat juga pengaduan ke polisi, semoga cepat diproses, sehingga ada rasa keadilan untuk anakku,” Katanya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMPN 4 Kendari, Madina, mengaku baru mengetahui dugaan kasus ini setelah mendapat laporan dari guru-guru sekolah.
“Saya baru mengetahui kasus ini setelah saya ditelepon oleh guru-guru bahwa ada orang tua murid sudah melapor ke polisi. Setelah itu kami melakukan langkah dengan memanggil orang tua kedua belah pihak agar kasus ini dapat diselesaikan,” jelasnya saat ditemui di ruang kerjanya.
Madina membantah adanya pengeroyokan seperti yang disampaikan. Menurut klarifikasi beberapa siswa lain, kejadian tersebut dianggap sebagai bentuk candaan antarteman.
“Kejadiannya tidak seperti apa yang disampaikan adanya dugaan pengeroyokan. Inikan anak-anak, mereka ini aktif jadi mereka saling cubit, bukan berarti adanya penganiayaan,” Pungkasnya.
Kasus ini kini dalam penanganan pihak kepolisian, sementara pihak sekolah terus berupaya menyelesaikan masalah secara internal dengan melibatkan orang tua siswa.(**)
Comment