KENDARI, EDISIINDONESIA.id – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulawesi Tenggara (Sultra) Usnia, membeberkan bahwa Kasus Tuberkulosis (TBC) di Sultra mencapai 2024 jiwa hingga Mei 2024.
Adapun kasus terbanyak TBC hingga Mei 2024 berada di Kota Kendari sebanyak 453 pasien, dan terendah berada di Konawe Kepulauan sebanyak 21 pasien.
“Sebanyak 2024 pasien ini tersebar di 17 Kabupaten dan Kota di Sultra,” ujar Usnia.
Sementara itu, upaya yang dilakukan Dinas Kesehatan Sultra dalam menangani kasus TBC ini yakni melakukan kerjasama dengan Global Fund, berupa pengobatan terhadap pasien yang resisten.
Kemudian, memperkuat sistem kesehatan khususnya terkait ketenagaan dan pengelolaan program sesuai standar pelayanan minimal (SPM).
Sehingga tugas pokok dan fungsi pelayanan tetap melekat pada semua Fasilitas Pelayanan Kesehatan atau Fasyankes tanpa melihat ada tidaknya tenaga yang sudah terlatih.
Dengan demikian, standar kebutuhan tenaga dan pelatihannya akan disesuaikan berdasarkan kebutuhan jenis dan jumlahnya.
Lalu, melakukan pembekalan atau sosialisasi program Pencegahan dan Penanggulangan atau P2TB kepada dokter PTT di level Kabupaten dan Kota dalam masa pra tugas, sehingga dokter PTT dapat terlibat dalam program TB pada saat tugas.
Selain itu, meningkatkan pengawasan dan motivasi petugas untuk membuat pencatatan dan pelaporan yang lengkap, valid dan tepat waktu.
Meningkatkan pembinaan dan motivasi agar penanggunjawab TB Fasyankes secara rutin melakukan analisis terhadap manajemen dan cakupan program, serta melakukan feedback terhadap pimpinan dan pihak-pihak terkait atau pihak yang berkepentingan.
Selanjutnya, membuat perjanjian peserta latih atau surat pernyataan untuk mengelola program TB di Fasyankes minimal 3 tahun pasca pelatihan yang nantinya diteruskan ke BKD.
Selain itu, menyarankan Fasyankes agar melakukan analisa ketenagaan dan kebutuhan pelatihan, serta memberikan motivasi kepada Fasyankes untuk memperhatikan dan memenuhi standar ketenagaan sesuai pelayanan minimal (SPM).
“Kita juga akan membuat feedback tenaga terlatih TB ke pimpinan petugas TB terlatih, Fasyankes, Dinkes Kabupaten dan Kota, dan BKD Kabupaten dan Kota,” tutupnya. (**)
Comment