EDISIINDONESIA.com – Kejaksaan Agung menetapkan Direktur Jenderal (Dirjen) Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Indrasari Wisnu Wardhana sebagai tersangka kasus mafia minyak goreng yang sebabkan kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng di Indonesia.
Indrasari menjadi tersangka bersama dengan tiga orang lainnya yang merupakan pihak perusahaan produsen minyak goreng. Ketiganya adalah Senior Manager Corporate Affair Permata Hijau Group berinisial SMA atau Stanley MA; Komisaris PT Wilmar Nabati Indonesia MPT atau Master Parulian Tumanggor, dan General Manager PT Musim Mas berinisial PT atau Picare Tagore.
Merspons peritiwa tersebut, Pengamat Politik Rocky Gerung mengatakan kelompok ‘emak-emak’ pasti senang terkait adanya pengungkapan kasus tersebut.
Rocky memberi respon melalui kanal Youtubenya pribadinya yang berjudul ‘Jaksa Agung Tetapkan Tersangka Mafia Migor. Peringatan Ibu Mega’. Diposting pada rabu, 20 April 2022.
Rocky Gerung menjelaskan bahwa kasus minyak goreng sudah mulai terbuka permainanya.
Menurutnya, kenaikan harga minyak goreng yang berdampak signifikan terhadap kelompok indvidu khususnya ibu rumah tangga atau ‘emak-emak’.
“Emak-emak tentu senang, tapi bukan itu soalnya, emak-emak ingin lebih jauh. masa seorang Dirjen bisa membuat keputusan yang benar saja, kira-kira begitu kata emak-emak, ucap Rocky Gerung dikutip dari Rocky Gerung Official pada Kamis,21 April 2022.
Rocky menduga kasus kasus miyak goreng menyeret ke Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi hingga Sinarmas. Dia mengatakan keempat tersangka ini bisa dianggap sebagai pelaksana teknis saja, sementara masih ada pihak yang lebih tinggi dari para tersangka.
“Orang mulai mempersoalkan karena di atas dirjen itu ada menteri. Karena itu kemarin saya baca, Jaksa Agung langsung bikin konferensi pers menjawab wartawan, ‘Ok, kalau menteri ketahuan bersangkutan maka akan kita periksa juga. Tapi lebih dari itu saya baca, minyak sawit inikan kartel, kenapa enggak ada nama Sinarmas di situ. Padahal ada nama Sinarmas juga yang kita tahu dekat dengan Istana,” ucapnya.
“Tapi itu tetap pertanyaan dan nanti akan dibuka Jaksa Agung, karena Pers akan tuntut, (Bahkan) mungkin nanti termasuk Menko Perekonomian yang termasuk ketua Dewan Pengarah soal dan Sawit segala macem,”ungkapnya.
Rocky Gerung meneruskan kasus minyak goreng ini berhubungan dengan ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang sebelumnya sempat menghebohkan publik karena pernyataanya masak dengan direbus.
“Ibu Mega pasti juga merasa, ‘kurang ngajar nih, saya pengen bikin nasi goreng kok minyaknya hilang’ kira-kira itu jika kita ingin menganggap ini sebagai teater besar, Ibu Mega pasti ingin membantu emak-emak,” ucap Rocky Gerung.
“Akhirnya Ibu Mega itu perintahkan ‘hey pak Jaksa anda kan juga petugas partai, coba periksa dulu tuh’, jadi ini yang kita bilang interpay power didalam istana itu mulai berlangsung,” tuturnya
Lebih lanjut bahwa seharusnya kasus ini tidak berhenti setelah penetapan dirjen hingga komisaris saja.
“Kita tuntut apa pertanggung jawaban Menteri perdagangan, jangan sampai hanya pada Dirjen doang. Begitu juga pada Wilmar, jangan hanya komisaris yang jadi tersangka,” tutur Rocky Gerung.
Rocky Gerung menjelaskan, struktur ekonomi dan politik sawit melibatkan kekuasaan dan pebisnis, sehingga saat ada yang “main-main” izin impor pasti ada kekuasaan yang lebih tinggi dari sekadar Dirjen di korporasi juga begitu ada kekuasaan yang lebih tinggi dari sekadar komisaris. Dia menganggap bahwa ini pintu yang dibuka Jaksa. (**)
Comment