EDISIINDONESIA.id- Menjelang pelaksanaan Piala Dunia 2026, hubungan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas. Pemerintah Iran menyatakan kemarahannya dan menuduh tuan rumah melakukan tindakan diskriminasi terhadap tim nasionalnya, yang berupa penolakan pemberian visa bagi sejumlah pejabat serta staf pendukung tim.
Tudingan ini muncul tak lama setelah pemerintah Washington mengonfirmasi bahwa seluruh pemain dan staf pendukung yang dianggap penting untuk keperluan kompetisi telah mendapatkan izin masuk ke wilayah mereka. Merespons hal ini, Kedutaan Besar Iran di Turki segera merespons dan mengungkapkan bahwa AS menolak permohonan visa dari sejumlah anggota delegasi utama, mulai dari staf manajerial, eksekutif, hingga penasihat teknis tim, sebagaimana dikutip dari BBC pada Minggu (7/6/2026).
Menurut laporan media resmi Iran, setidaknya ada 15 pejabat administrasi yang tidak diberikan izin masuk, di antaranya ketua dan wakil ketua Federasi Sepak Bola Iran, serta direktur media tim nasional. Situasi ini semakin memuncak ketika pihak Iran menilai kebijakan visa tersebut sebagai bentuk campur tangan politik yang tidak adil dalam dunia olahraga dan perlakuan diskriminatif terhadap negaranya.
Pihak berwenang Iran menyatakan, “Anda kini telah meningkatkan perlakuan yang disengaja dan diskriminatif terhadap tim sepak bola nasional Iran ke tingkat tertinggi.” Sebagai jalan keluar, Iran berharap Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) dapat turun tangan dan menyelesaikan masalah ini secara adil.
Di sisi lain, pemerintah AS memberikan penjelasan berbeda. Mereka menegaskan bahwa seluruh pemain dan staf yang dibutuhkan untuk bertanding sudah mendapatkan visa. Namun, Washington menekankan tidak akan membiarkan Iran memanfaatkan momen turnamen ini untuk tujuan lain. “Kami tidak akan membiarkan Iran menyalahgunakan sistem ini untuk menyelundupkan teroris ke Amerika Serikat dengan dalih palsu,” demikian pernyataan pihak AS.
Piala Dunia 2026 dijadwalkan berlangsung mulai 11 Juni mendatang, dan menjadi edisi pertama di mana tuan rumah berhadapan dengan negara peserta yang sedang dalam konflik terbuka. Perselisihan antara kedua negara ini diketahui semakin memanas sejak Februari 2026. Sebagai informasi, turnamen ini diselenggarakan secara bersama oleh AS, Meksiko, dan Kanada. Sementara itu, Iran sudah memastikan kelolosan ke putaran final sejak Maret 2025 lewat jalur kualifikasi, jauh sebelum konflik terbaru ini meletus.
Berbagai langkah persiapan telah diambil demi menjaga kelancaran dan keamanan kompetisi. Salah satunya, Iran memutuskan memindahkan pusat pelatihan timnya dari Tucson, Arizona, ke wilayah Meksiko pada akhir Mei lalu. Sementara itu, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menegaskan tetap berkomitmen penuh menjaga keamanan masyarakat serta seluruh pihak yang terlibat dalam ajang Piala Dunia 2026.(edisi/fajar)
Comment