EDISIINDONESIA.id– SMAN 1 Pontianak resmi memutuskan untuk tidak berpartisipasi dalam pelaksanaan ulang babak final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Keputusan ini diambil setelah panitia penyelenggara dari MPR RI menetapkan bahwa babak final akan diulang kembali menyusul kontroversi yang muncul terkait proses penjurian pada tahap sebelumnya.
“SMAN 1 Pontianak menyatakan tidak akan terlibat dalam pelaksanaan lomba LCC yang diulang, sebagaimana informasi yang disampaikan oleh pihak MPR RI,” ujar Indang Maryati, mewakili pihak sekolah.
Protes Demi Kebenaran, Bukan Menginginkan Kemenangan
Indang menegaskan bahwa sejak awal, pihak sekolah tidak memiliki niat untuk membatalkan hasil lomba atau merusak kredibilitas lembaga maupun pihak terkait. Sikap dan protes yang disampaikan oleh Josepha Alexandra beserta tim saat berlangsungnya lomba sebelumnya, murni ditujukan untuk mendapatkan kejelasan dan kebenaran prosedural, bukan semata-mata demi meraih kemenangan.
Lebih lanjut, SMAN 1 Pontianak menyatakan tetap menghormati hasil keputusan yang telah ditetapkan pada lomba sebelumnya dan mengakui kemenangan yang diraih oleh SMAN 1 Sambas. Pihak sekolah bahkan memberikan dukungan penuh agar SMAN 1 Sambas dapat tampil maksimal saat mewakili Kalimantan Barat di babak tingkat nasional yang akan digelar di Gedung MPR/DPR RI, Senayan.
“SMAN 1 Pontianak menghormati hasil lomba yang telah ditetapkan serta menyampaikan dukungan penuh kepada SMAN 1 Sambas sebagai perwakilan Kalimantan Barat pada ajang LCC Empat Pilar tingkat nasional,” terang Indang.
Mengajak Ciptakan Iklim Pendidikan yang Kondusif
Indang juga menyampaikan permohonan maaf atas kegaduhan yang sempat terjadi dan menyita perhatian publik. Ia mengajak seluruh pihak terkait untuk menyelesaikan persoalan ini dengan semangat kebersamaan dan sikap saling menghargai.
“Langkah yang dilakukan sekolah kami bukanlah upaya menyerang ataupun menjatuhkan kredibilitas lembaga penyelenggara maupun individu tertentu. Kami memohon dukungan dari semua pihak untuk bersama-sama menciptakan iklim pendidikan yang kondusif, aman, dan nyaman bagi semua pihak,” imbuhnya.
Keputusan untuk mundur dari pelaksanaan ulang ini dinilai sebagai langkah besar untuk meredam polemik yang berkembang, termasuk isu yang menyeret nama baik dua juri, yaitu Dyastasita WB dan Indri Wahyuni, yang sebelumnya mendapat sorotan tajam dari masyarakat akibat dugaan kesalahan dalam proses penilaian.(edisi/fajar)
Comment