EDISIINDONESIA.id – Perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kini memicu perdebatan panas di Washington terkait besarnya anggaran yang terkuras.
Menurut laporan terbaru, biaya operasional militer AS dalam konflik ini diperkirakan mencapai angka fantastis, yakni antara US$ 1 miliar hingga US$ 2 miliar per hari (sekitar Rp 15,5 triliun hingga Rp 31 triliun). Angka ini mengejutkan banyak pihak, terutama di tengah kondisi ekonomi domestik yang masih fluktuatif.
Kritik tajam datang dari pemimpin faksi minoritas DPR AS, Hakeem Jeffries. Ia menuding Presiden Donald Trump telah menjerumuskan Amerika ke dalam konflik tanpa akhir di Timur Tengah.
“Jeffries menyoroti kontradiksi kebijakan pemerintah yang tampak sangat murah hati dalam mendanai serangan militer, namun seolah kesulitan menemukan anggaran untuk kebutuhan dasar warga Amerika seperti biaya kesehatan, perumahan, dan kebutuhan pokok,” tulis Aljazeera, Senin (9/3/2026).
Bagi Presiden Trump, lonjakan biaya perang ini menjadi ancaman serius bagi popularitasnya. Padahal, ia memenangkan pemilu 2024 dengan janji utama menurunkan biaya hidup.
Hasil jajak pendapat dari Reuters/Ipsos menunjukkan bahwa tingkat persetujuan publik terhadap kepemimpinan Trump merosot tajam sesaat setelah serangan pertama dilancarkan pada akhir Februari lalu. Masyarakat mulai skeptis terhadap urgensi perang ini jika dibandingkan dengan beban ekonomi yang harus mereka tanggung.
Analisis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengungkapkan bahwa biaya besar tersebut sebagian besar habis untuk amunisi. Dalam 100 jam pertama saja, AS diperkirakan telah menghabiskan lebih dari 2.000 unit amunisi berbagai jenis.
Salah satu faktor pembengkakan biaya adalah penggunaan rudal interseptor canggih yang harga satuannya bisa mencapai jutaan dolar hanya untuk menjatuhkan satu buah pesawat tanpa awak (drone) musuh.
Direktur Penn Wharton Budget Model, Kent Smetters, menjelaskan bahwa biaya di fase awal perang memang selalu sangat tinggi karena mobilisasi besar-besaran. Meskipun ia memprediksi biaya harian bisa sedikit turun seiring berjalannya waktu, total kerugian yang harus ditanggung wajib pajak Amerika diperkirakan tetap akan mencapai angka US$ 65 miliar atau lebih jika perang berlangsung lebih dari dua bulan.
Di sisi lain, tantangan bagi Pentagon bukan hanya soal uang, melainkan stok persenjataan. Para ahli militer memperingatkan bahwa cadangan rudal interseptor AS bisa habis dalam hitungan bulan jika intensitas perang tetap tinggi.
Saat ini, militer AS mulai mencari cara untuk menekan biaya, termasuk mempertimbangkan penggunaan senjata energi kinetik yang lebih murah atau mencari pasokan sistem pertahanan dari negara sekutu.
Kini, pemerintahan Trump tengah bersiap mengajukan anggaran tambahan sebesar US$ 50 miliar kepada Kongres untuk mengganti peralatan tempur dan amunisi yang rusak atau habis.
Namun, langkah ini diprediksi tidak akan berjalan mulus. Mengingat defisit anggaran nasional yang sudah membengkak, banyak anggota legislatif yang mulai ragu untuk memberikan “cek kosong” bagi kelanjutan perang ini.
Dengan pemilu paruh waktu yang semakin dekat, tekanan terhadap Gedung Putih dipastikan akan semakin kuat. Rakyat Amerika dan para politisi di Capitol Hill kini menunggu kejelasan mengenai strategi jangka panjang pemerintah: apakah akan terus membakar uang dalam konflik bersenjata, atau kembali fokus membenahi ekonomi di dalam negeri sebagaimana janji kampanye yang pernah diucapkan. (edisi/bs)
Comment