EDISIINDONESIA.id – Kebijakan pemerintah yang tetap menyalurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama masa libur Lebaran menjadi sorotan tajam dari pegiat media sosial Yusuf Dumdum. Ia menegaskan bahwa program ini harus terus berjalan meskipun dalam kondisi libur, mengingat dampak finansial dan sosial yang sangat besar jika program dihentikan sementara.
“Mau apapun kondisinya, MBG tetap harus disalurkan, mengapa?” kata Yusuf saat ditemui di Jakarta, Rabu (18/2/2026).
Anggaran Besar yang Menjadi Alasan Utama
Yusuf membeberkan bahwa anggaran MBG mencapai sekitar Rp1,2 triliun per hari, yang ia bulatkan menjadi Rp1 triliun untuk memudahkan perhitungan. Jika selama tujuh hari libur Lebaran program ini tidak disalurkan, maka sekitar Rp7 triliun anggaran tidak akan tersalurkan kepada pengelola dapur.
“Jika selama Lebaran MBG libur 7 hari, maka otomatis anggaran sebesar Rp7 triliun nggak jadi dibagi-bagi kepada pemilik dapur,” jelasnya.
Komposisi Penggunaan Anggaran MBG
Lebih lanjut, Yusuf menjelaskan rincian penggunaan anggaran tersebut. Sekitar 70 persen dialokasikan untuk pembelian bahan makanan, 20 persen untuk biaya operasional, dan 10 persen untuk insentif. Dengan demikian, sekitar 30 persen dana dari total anggaran masuk langsung ke kantong dapur.
“Nah dari Rp7 triliun itu, hitung-hitungannya adalah 70 persen untuk biaya beli bahan makanan, 20 persen untuk operasional, 10 persen untuk bayar-bayar insentif. Jadi total ada 30 persen dana yang masuk kantong dapur,” bebernya.
Ia menambahkan, 30 persen dari Rp7 triliun setara dengan Rp2,1 triliun, dengan catatan perhitungan tersebut sesuai aturan yang ditentukan.
“Kalau 30 persen dari Rp7 triliun maka sama dengan Rp2,1 triliun. Nah itu kalau hitungannya sesuai dengan aturan yang ditentukan, 70 persen untuk beli bahan makanan,” kata Yusuf.
Tantangan Realisasi Belanja Makanan dan Proyeksi Program MBG
Yusuf juga mempertanyakan kemungkinan ketidaksesuaian realisasi belanja bahan makanan dengan ketentuan, misalnya apabila hanya 50 persen yang digunakan untuk belanja bahan makanan.
“Kalau enggak sesuai, gimana? Misal untuk belanja cuma 50 persen,” terangnya.
Kendati demikian, ia menyimpulkan bahwa alasan-alasan tersebut menjadi dasar kuat agar program MBG tetap disalurkan, bahkan berpotensi berlanjut hingga setelah hari raya.
“Jadi sudah paham ya mengapa MBG tetap disalurkan. Bahkan mungkin sampai kelak H+1 MBG tetap akan ada,” pungkas Yusuf.
Komentar Menohok Soal Kebijakan Pemerintah
Menanggapi kebijakan pemerintah yang terkesan memaksakan program ini terus berjalan, Yusuf memberikan komentar yang cukup menohok.
“Karena penduduk surga dan neraka juga butuh MBG supaya badan mereka tetap sehat dan kuat. Hidup Jokowi,” katanya dengan nada sarkastik.
Jaminan Penyaluran MBG oleh Badan Gizi Nasional.
Jaminan Penyaluran MBG oleh Badan Gizi Nasional
Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan distribusi program MBG tetap berjalan selama Tahun Baru Imlek, Ramadhan, serta libur dan cuti bersama Idul Fitri 1447 Hijriah. Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyatakan hal ini dalam keterangannya kepada media di Jakarta, Sabtu (14/2/2026).
“Pelayanan MBG pada Ramadan dan libur serta cuti bersama lebaran dan Tahun Baru Imlek tetap dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip pemenuhan gizi seimbang,” jelas Dadan dikutip dari laman resmi bgn.go.id.(edisi/fajar)
Comment