KONUT, EDISIINDONESIA.id– Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Lasolo Kepulauan, Kabupaten Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara, hingga kini masih berdiri di lokasi yang berisiko tinggi, tepatnya di area jetty bongkar muat ore nikel milik PT Daka Group. Padahal, rencana relokasi sekolah ini telah dijanjikan sejak tahun 2019.
PT Daka, pada Mei 2019, berjanji akan membangun enam ruang kelas baru, perpustakaan, dan ruang guru di lokasi yang lebih aman sebagai kompensasi atas keberadaan sekolah di wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) mereka. Namun, hingga pertengahan Juli 2025, janji tersebut belum terealisasi.
Kepala Desa Boedingi, Aksar, menjelaskan bahwa proses relokasi masih berjalan, dengan PT Daka telah menyiapkan lahan dan beberapa material bangunan seperti pasir.
“Sementara progres, tinggal tunggu arahan dari Dinas Pendidikan. Material pasir dan tempat sudah ada,” ujarnya.
Aksar mendesak percepatan relokasi mengingat kondisi bangunan sekolah yang sudah tidak layak. Ia bahkan telah menyampaikan hal ini kepada pihak HRD PT Daka.
Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Konut, Samir, mengaku belum meninjau lokasi secara langsung, namun berencana untuk melakukannya pada Senin mendatang.
Sementara itu, Jefri, Ketua Umum Lembaga Persatuan Pemuda Pemerhati Daerah (P3D) Konut, menyoroti dampak buruk keberadaan sekolah di area jetty. Debu tambang dan polusi visual mengancam kesehatan dan kenyamanan belajar siswa.
“Aktivitas tambang dan bongkar muat perusahaan akan menghasilkan debu yang mengotori lingkungan sekolah sehingga anak-anak harus sering membersihkan ruangan sehingga proses belajar terganggu,” tegas Jefri.
P3D mendesak koordinasi intensif antara PT Daka, Dinas Pendidikan Konut, dan Pemerintah Kabupaten Konut untuk segera merealisasikan relokasi.
Lebih dari enam tahun berlalu sejak rencana relokasi diusulkan, SDN 3 Lasolo Kepulauan tetap berada di zona bahaya. Penundaan berkelanjutan ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak kesehatan dan pendidikan siswa.
Kekecewaan juga diungkapkan oleh Jeje (sebutan akrab seorang aktivis), yang mempertanyakan komitmen pemerintah daerah dalam mewujudkan pendidikan yang layak bagi anak-anak di tengah bisingnya aktivitas tambang dan debu yang beterbangan.
“Di mana perasaan Pemda Konut melihat siswa-siswi SDN 3 Laskep mengikuti pelajaran dengan suara bising, klakson dump truk dan debu yang bertebaran. Inikah yang dimaksud menuju Indonesia Emas 2045?” tanyanya.
Sementara itu, KTT PT Daka Group, Kadir yang telah di hubungi melalui pesan Whatsapp tidak ada jawaban,
Hingga berita ini di terbitkan, pihak perusahaan belum ada jawaban terkait berita yang di maksud.(**)
Comment