Puluhan Tahun Jalan Desa Wale Ale-Matombura Rusak Parah, Mengapa Diabaikan?

Kondisi kerusakan jalan Desa Wale Ale-Matombura. (Foto: Andik/EI)

MUNA, EDISIINDONESIA. com – Kondisi jalan penghubung dua Kecamatan, Tongkuno Selatan (Tongsel) dan Bone, tepatnya pada jalur desa Wale Ale-Matombura, tidak sedang baik-baik saja.

Selama puluhan tahun, warga pada wilayah tersebut, cukup menderita dengan kerusakan jalan yang sangat parah.

Meskipun bergonta-ganti kepala daerah, tapi tetap saja, jalan itu belum mendapat perhatian yang serius. Informasi yang diterima Edisi Indonesia, terakhir pengaspalan dilakukan pada tahun 1991 silam.

Pemuda desa Wale Ale, Maul Gani mengatakan persoalan jalan itu seharusnya bukan lagi dilihat menggunakan kacamata politik, melainkan pada sisi kemanusiaan.

“Penderitaan warga masyarakat sudah sangat panjang. Bayangkan, kalau tidak salah, terakhir diaspal pada masa kepemimpinan bapak Maola Daud atau sekitar tahun 1991. Terus dimana Pemerintah kita, anggota dewan kita? Coba lihat dari sisi kemanusiaan, jangan pakai kacamata politik,” ujarnya.

Ia berharap, Pemerintah daerah (Pemda) Muna tidak membeda-bedakan wilayah yang satu dengan lainnya, apalagi wilayah yang memang kondisional butuh perhatian dan sentuhan secara nyata, menyangkut kepentingan orang banyak, diantaranya jalan raya ini.

“Bagi anggota dewan khususnya daerah pemilihan diwilayah kita, sudahlah lupakan perbedaan warna. Terus presure, mari saling merangkul, bersatu demi pembangunan yang kita harapkan bersama, sesuai aspirasi masyarakat, ” harapnya.

Kata Maul Gani, memang sekitar dua tahun lalu, jalan poros Labasa hingga desa Wale Ale, sempat teraspal, namun hanya sebagian dan tidak menyentuh jalan dengan kerusakan yang sangat parah.

“Yang teraspal justru kondisi kerusakan sedang, itupun hanya sepotong. Sementara desa Wale Ale ini panjang, mulai dari Wale Ale hingga Matombura ini jalannya sangat sangat parah. Termasuk Kulidawa sejak terbentuk Wale Ale sampai hari ini belum teraspal, padahal menghubungkan juga dua kecamatan,” terangnya.

Lain halnya dengan Pemerintah kecamatan Tongsel mengungkapkan terkait kerusakan jalan diwilayahnya setiap tahun diusulkan untuk mendapat perbaikan.

“Sekitar kurang lebih dua tahun lalu, sempat teraspal bagian Wale Ale tapi memang hanya sepotong belum full. Saya kira ini karena keterbatasan anggaran, apalagi dalam kondisi korona saat ini,” katanya Camat Tongsel, Laode Busi.

Sementara itu, Plt Kadis PU Muna, Aswan Kuasa yang ingin dikonfirmasi belum memberikan jawaban.

Pesan singkat Whatsapp yang dikirimkan Edisi Indonesia hanya dibaca, tapi tak dibalas, begitupun dengan panggilan telepon, tidak diangkat.

Selain itu, Sekretaris Komisi III DPRD Muna, Murida menyatakan telah kembali mempresure hal tersebut ke Plt Kadis PU Muna, Aswan Kuasa, disela-sela rapat gabungan komisi pembahasan beberapa Rancangan Peraturan Daerah (Raperda), pada Senin 21/2/2022.

“Menurut Plt Kadis PU, akan dicek dulu apakah Wale Ale – Matombura masuk dalam perencanaan pengaspalan menggunakan dana pinjaman atau tidak. Sebab, menurutnya dana PEN itu semua sudah ada porsinya, ” ungkapnya.

“Karena biar bagaimanapun yang namanya aspirasi masyarakat kita harus perjuangkan. Soalnya Wale Ale-Matombura ini memang rusak sangat parah,” tandasnya. (**)

Reporter: Andik

Comment