Baru Sebulan Menikah, Karin Dilabrak Selingkuhan Donjuan

EDISIINDONESIA.id- Kisah ini melibatkan Karin, 24 tahun, yang baru saja menikah selama sebulan namun terpaksa mengajukan cerai karena merasa ditipu.

Cerita ini tidak disampaikan langsung oleh Karin sendiri, melainkan oleh bibinya yang saat itu mengantar Karin untuk berkonsultasi dengan seorang pengacara. Mari kita sebut bibinya ini sebagai Mira.

Mira menjelaskan bahwa sebenarnya Karin tidak layak mengalami nasib yang buruk. Karin adalah seorang anak yang baik dan sopan. Pernikahan dilangsungkan oleh Karin semata-mata untuk memenuhi keinginan orang tuanya yang ingin segera memiliki menantu. Namun sayangnya, pilihan Karin kali ini keliru. “Dia (Donjuan) memperdaya Karin dengan janji-janji manis. Padahal sebelumnya dia tidak memiliki banyak tindakan, seperti Karin yang baik,” cerita Mira sembari menunggu Karin di ruang tunggu kantor pengacara dekat Pengadilan Agama (PA) Kelas 1A Surabaya.

Donjuan sendiri adalah anak dari rekan jauh ayah Karin. Selain pendiam, Donjuan juga memiliki kekayaan yang melimpah. Dia memiliki usaha yang sukses dan juga tampan. Kriteria seperti ini tentu saja sulit ditolak oleh mertua. “Dia bahkan kuliah di luar negeri, Mbak. Sudah tua,” tambah Mira.

Karena merasa cocok, mereka tidak menunggu lama dan segera menikah. Mereka hidup bahagia dan damai sampai suatu hari seorang wanita hamil, kita sebut saja namanya Sephia, datang ke rumah mereka. Sephia menuntut pertanggungjawaban dari Donjuan karena anak yang ada dalam rahimnya adalah hasil hubungan dengan Donjuan sebelum Donjuan menikahi Karin. Bahkan Sephia mengatakan bahwa mereka sudah tinggal serumah dengan Donjuan cukup lama. Mereka adalah pasangan kumpul kebo.

Tidak hanya berbicara kosong, Sephia juga membawa bukti berupa foto-foto mereka bersama Donjuan. Bahkan ada foto-foto yang bersifat intim.

Kedatangan tamu tak diundang ini tentu saja mengguncang Karin. Karena tidak bisa menerima keadaan tersebut, Karin dengan tegas meminta cerai tanpa banyak pertimbangan. “Suamiku terpengaruh oleh budaya kumpul kebo orang Barat. Sungguh, apa yang terjadi sekarang sangat mempengaruhi Karin. Saya merasa stres. Jadi, saya memilih untuk tetap diam,” ungkap Karin yang tinggal di Karang Pilang, Surabaya. (edisi/radarsby)

Comment