KENDARI, EDISIINDONESIA.id – Harga komoditas beras di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) berangsur turun, hal tersebut tidak lepas dari upaya pemerintah, melalui program stabilisasi pasokan harga beras (SPHB).
Hal tersebut disampaikan, Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Provinsi Sultra, Ari Sismanto. Dimana, selama ini pihaknya telah menunjuk 321 kios atau rumah pangan untuk menjual beras program SPHB dengan harga Rp9.450 per liter.
“Jadi dengan adanya itu semua, beras cadangan pemerintah (CBP) bisa menekan harga yang ada di pasar,” ungkap mantan Sekdis Ketapang ini.
Bahkan kata dia, pihaknya juga melakukan gerakan pangan murah di beberapa titik daerah seperti halnya di Kota Kendari, Kota Baubau, dan Kabupaten Kolaka Utara.
“Itu tentunya juga bisa menekan harga di pasar. Selain itu di Sultra ini pada Mei lalu puncaknya panen beras. Itu semua sedikit banyaknya ada pengaruh terhadap turunnya harga beras di pasar,” jelasnya.
Lanjut ia menyampaikan, bahwa pemerintah melalui tim pengendalian inflasi daerah (TPID) Sultra dan Satgas ketahanan pangan terus bergerak untuk melakukan gerakan pangan murah di titik yang dinilai memang perlu diadakan gerakan pangan murah.
“Sehingga itu semua bisa menekan harga di pasar,” ucapnya.
Namun menurutnya, biasanya harga komoditas di pasar akan kembali melonjak menjelang hari besar nasional keagamaan, sebab terjadi peningkatan kebutuhan masyarakat dan biasanya juga para pedagang memanfaatkan hal tersebut.
Akan tetapi, pihaknya juga akan terus bergerak untuk menekan harga, dengan melakukan gerakan pangan murah baik dari Disketapang itu sendiri, maupun Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sultra.
Sehingga ia berharap, melalui gerakan pangan murah itu dapat menstabilisasi harga. Ia juga mengaku dari sisi ketersediaan, stok pangan baik bahan pokok maupun strategis lainnya dipastikan dalam kondisi aman dan terjaga. (Irna)
Comment