MUNA, EDISIINDONESIA.id – Kenaikan harga beras secara fantastis dipasaran sangat mencekik leher masyarakat kalangan menengah kebawah.
Guna memenuhi kebutuhan pokok berupa beras, warga lebih memilih membeli beras di kantor bulog cabang pembantu Raha, sebab harga beras bulog dirasa lebih mengerti dompet masyarakat.
Namun, beberapa hari ini, kantor bulog Raha tidak lagi melayani masyarakat untuk pembelian beras, dikarenakan padatnya antrian mencapai ratusan orang perhari. Sehingga, penjualan dialihkan pada mitra bulog atau outlet Rumah Pangan Kita (RPK) yang secara resmi terdaftar.
Akan tetapi, meskipun penjualan telah dialihkan ke RPK masih saja menuai protes dan kritikan keras dari warga.
Misalnya, salah seorang ibu dari Kelurahan Watonea, Kecamatan Katobu, tampak marah dihalaman kantor bulog Raha, Kamis (16/3/2023).Ibu paruh baya tersebut menuding pihak bulog memanfaatkan kenaikan harga beras sebagai ladang bisnis.
“Beras bulog hanya dijadikan lahan bisnis. Hanya orang-orang nya saja yang dikasih. Kita mau beli di bulog alasannya tidak ada. Kita mau beli ditempat lain, harganya beda. belum lagi kita mau beli bensin untuk pergi beli. Tambah susah kita mau dapatkan beras,” cetus ibu tersebut dengan nada tinggi.
Senada di tempat yang sama, salah seorang ibu yang mengaku dari Kelurahan Raha II Kecamatan Katobu juga mengeluhkan pembelian beras diluar kantor bulog (RPK) sebab dirinya tidak dilayani dengan alasan tidak memiliki kupon.
“Kasian kita masyarakat kecil ini. Ini beras bulog hanya untuk mereka-mereka saja. Mau beli dipasar mahalnya. Apalagi saya hanya seorang janda dengan gaji yang pas-pasan.” ujarnya yang terlihat emosi.
Belum lagi media ini mendapat informasi jika ada oknum tertentu yang memanfaatkan momentum kenaikan harga beras dengan mengoplos beras bulog, lalu memindahkan pada kemasan lain dengan mengurangi takarannya serta menjual diatas harga bulog sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).
Menggapi hal itu, Kepala Bulog Raha Ritno nampak santai menyikapi keluhan-keluhan warga. Dia malah mempersilahkan warga untuk melaporkan ke satgas pangan dalam hal ini pihak aparat penegak hukum.
“Langsung saja ke satgas pangan,” cetus Ritno.Terkait keluhan warga ada perbedaan harga antara bulog Raha dan mitra bulog atau agen, dia mengatakan masyarakat harus paham apa itu HET. HET itu membatasi harga beras paling tinggi Rp 9.450/kg dikonsumen akhir. Itu legal. Kalau kurang yakin silahkan periksa permendagri atau permendag nomor 5,” katanya.
Jika ada oknum bermain-main dengan mengoplos, lanjut dia, secara sah disertai penguatan dari pihak kepolisian, pihaknya langsung menindaki agen tersebut.
” Kemudian terima kasih juga jika warga berani laporkan, betul-betul dia (mitra) jual diatas HET, otomatis saya cabut. Ngapain saya berpikir bikin sudah diri saja, saya juga tidak ambil apa-apa disitu biar satu rupiah. Saya mau enak makan, mau enak tidur kok.” katanya.
Comment