EDISIINDONESIA.id – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah gencar menawarkan 9 wilayah kerja (WK) atau blok minyak dan gas bumi (migas) kepada investor. Kabar baiknya, salah satu blok yang dilelang berlokasi di Sulawesi Tenggara (Sultra), yaitu Blok Mabelo.
Blok Mabelo terletak di wilayah onshore dan offshore Sultra dengan luas area mencapai 7.334,24 km². Potensi sumber daya migas di wilayah ini diperkirakan mencapai 282 juta barel setara minyak. Angka yang fantastis, bukan?
Pemerintah menawarkan skema kontrak cost recovery dengan pembagian hasil 55:45 untuk minyak dan 50:50 untuk gas. Selain itu, ada komitmen kerja pasti selama tiga tahun pertama yang mencakup kegiatan G&G, serta akuisisi dan pemrosesan seismik 3D seluas 250 km² atau alternatif akuisisi dan pemrosesan seismik 2D sepanjang 500 kilometer. Bonus tanda tangan ditetapkan melalui open bid dengan nilai minimum US$200.000.
Selain Blok Mabelo di Sultra, pemerintah juga melelang blok migas di beberapa lokasi lain:
Abar-Anggursi (lepas pantai Jawa Barat)
Tapah (daratan Sumatra Selatan dan Jambi)
Nawasena (Jawa Timur)
Tuah Tanah (Sumatra Utara dan Riau)
Rangkas (daratan Banten dan Jawa Barat)
Akimeugah I (daratan Papua Selatan dan Papua Pegunungan)
Akimeugah II (daratan Papua Selatan dan Papua Pegunungan)
Arwana III (Laut Natuna)
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa proses penawaran wilayah kerja migas baru saat ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Dulu, penawaran blok migas cenderung diinisiasi oleh badan usaha yang sudah beroperasi untuk melakukan kajian bersama (joint-study). Namun, dalam dua tahun terakhir, joint study yang biasa dilakukan badan usaha kini diambil alih oleh Kementerian ESDM.
“Sehingga hasilnya cukup signifikan. Jika tahun 2022 lalu blok itu hanya ada 75, dalam waktu 1 tahun bertambah dan sekarang sudah 110 WK. Penambahan ini belum pernah terjadi sebelumnya,” tutur Laode dalam acara Energy Outlook 2026 CNBC Indonesia, dikutip Jumat (13/02/2026).
“Saat ini, dari berbagai WK yang sudah kita lelangkan, semuanya mendapatkan perhatian dan penawaran dari calon investor. Artinya, speed untuk menarik investasinya cukup tinggi,” ujarnya.
Laode menambahkan, dari blok migas baru yang dilelang tersebut, dibutuhkan waktu 4-5 tahun sejak pemenang lelang ditetapkan untuk bisa mulai diproduksi.
“Tetapi jaminan jangka panjang kita untuk bisa menjaga kecepatan produksi tentu berasal dari WK yang ditemukan pada hari ini. Kalau ini tidak segera kita percepat, maka mungkin beberapa tahun ke depan bisa menurun lagi. Oleh karena itu, kita akan kejar dengan ini. Investor asing yang tadinya sudah berkurang, sekarang seperti Shell masuk kembali di hulu, dan lain-lain,” jelasnya.
“Proses mulai dari menawarkan sampai berproduksi speed-nya sudah kita percepat. Ratusan regulasi dipangkas dan disederhanakan. Ini penting karena investor juga memerlukan kecepatan dalam proses menginisiasi investasi. Ini menjadi komitmen dari Kementerian ESDM,” tandasnya.(edisi/cnbc)
Comment