EDISIINDONESIA.id – Maskapai penerbangan pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mencatat rugi sebesar USD182,54 juta atau Rp3,04 triliun (kurs Rp16.640) hingga September 2025.
Di sisi lain, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia kembali memberi suntikan modal kepada Garuda Indonesia. Berdasar Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) tertanggal 10 November 2025, suntikan modal ke GIIA menjadi Rp23,6 triliun atau 23.670.819.000.000.
Alasan pemberian suntikan modal meski PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) terus mencatatakan kerugian, Danantara memproyeksi kinerja PT Garuda Indonesia akan kembali positif tahun depan.
Laporan keuangan yang dipublikasikan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan usaha Garuda Indonesia hingga akhir September 2025 turun menjadi USD2,39 miliar dari kuartal III tahun 2024 yang sebesar USD2,56 miliar.
Pendapatan usaha tersebut terdiri dari penerbangan berjadwal yang turun jadi USD1,84 miliar, penerbangan tidak berjadwal naik menjadi USD299,5 juta, dan pendapatan lainnya yang turun jadi USD245,8 juta.
Total beban usaha GIAA hingga kuartal III tahun ini juga turun jadi USD2,29 miliar dari sebelumnya yang sebesar USD2,38 miliar.
Di sisi lain, GIAA juga mendapatkan keuntungan dari selisih kurs bersih dari yang sebelumnya rugi USD7,5 juta jadi untung USD14,7 juta. Lalu pendapatan keuangan naik jadi US$ 18,1 juta.
Namun GIAA juga masih menanggung beban keuangan sebesar USD372,8 juta. Rugi sebelum pajak penghasilan naik jadi USD211,7 juta dari kuartal III tahun 2024 yang sebesar USD148,06 juta.
Setelah dikurangi manfaat pajak penghasilan, maka rugi periode berjalan hingga kuartal III tahun ini menjadi USD180,7 juta.
Adapun total aset GIAA hingga kuartal III tahun 2025 naik jadi USD6,75 miliar dibandingkan akhir Desember 2024 yang sebesar US$ 6,61 miliar.
Danantara Suntik Modal ke Garuda
Suntikan modal dari Danantara ke Garuda Indonesia sebesar Rp23,6 triliun tertuang dalam rencana penambahan modal tanpa memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) yang akan dilakukan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA).
Suntikan modal baru ke Garuda Indonesia ini turun dari rencana awal sebesar Rp30,31 triliun. Sebelumnya, Danantara Indonesia menyatakan akan memberikan suntikan modal ke Garuda Indonesia senilai USD1,84 miliar atau setara Rp30,31 triliun.
“Dana hasil pelaksanaan PMTHMETD adalah sebesar IDR23.670.819.000.000, yang meliputi setoran modal tunai sebesar IDR17.020.314.000.000 dan konversi pinjaman pemegang saham sebesar IDR 6.650.505.000.000,” demikian pernyataan manajemen Garuda Indonesia, dilihat dari keterbukaan informasi BEI, Selasa, 11 November 2025.
Suntikan modal sebesar Rp23,6 triliun akan digunakan Garuda Indonesia untuk keberlangsungan usaha dengan rincian:
Dana sebesar 37 persen akan digunakan untuk modal kerja dan operasional Perseroan, yang meliputi pembayaran biaya perawatan dan perbaikan pesawat.
Lalu, suntikan modal sebesar 63 pesen atau setara RP14.963.653.000.000 akan digunakan untuk peningkatan modal kepada Citilink, melalui konversi pinjaman pemegang saham menjadi modal serta setoran modal tunai.
“Biaya perawatan dan perbaikan pesawat sebesar USD 111.342.899 berasal dari SHL dan Rp6.884.435.000.000 berasal dari penambahan modal tunai untuk pesawat tertentu yang jatuh periode di tahun 2025/2026. Perawatan dan perbaikan pesawat akan dilakukan oleh GMF dan/atau MRO lainnya berdasarkan Perjanjian Induk Perawatan Pesawat No. IG/PERJ/DE-3098/2018 dan No. GMF/PERJ/DT-3074/2018 tanggal 12 Maret 2018 antara Perseroan dengan GMF,” tulis manajemen Garuda.
Manajemen Garuda menyatakan fokus restrukturisasi kepada Citilink adalah untuk menghindari dampak risiko strategis dan dampak sosial terhadap masyarakat. Peningkatan modal Citilink diperkirakan akan dilakukan pada bulan Desember 2025, yang akan digunakan oleh Citilink. “Penggunaan dana hasil PMHMETD ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap perbaikan posisi keuangan Perseroan, meningkatkan ekuitas, memperkuat struktur permodalan, serta mendukung keberlanjutan usaha Perseroan dan entitas anak di masa yang akan datang,” tulis manajemen Garuda. (edisi/fajar)
Comment