KENDARI, EDISIINDONESIA.id – Perekrutan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Batch 3 Tahun Angkatan 2025 di Sulawesi Tenggara (Sultra) memantik polemik.
Dugaan ketidaktransparanan mencuat setelah puluhan peserta yang sebelumnya dinyatakan lulus, tiba-tiba tersingkir dari proses seleksi tanpa penjelasan resmi yang memadai.
Salah satu peserta asal Kota Kendari, Arya Putra Ramadhan (22), mengungkapkan bahwa program SPPI Batch 3 merupakan kesempatan bergengsi bagi para sarjana muda untuk berkontribusi langsung dalam pembangunan nasional, terutama di sektor pemenuhan gizi dan bidang strategis lainnya.
Menurut Arya, kuota awal peserta SPPI di Sultra sebanyak 417 orang, yang kemudian bertambah 59 orang sehingga total menjadi 476 orang. Ia dan peserta lain telah mendaftar secara daring sejak 2 Februari 2025 dan dinyatakan lulus pemberkasan pada 8 Februari 2025.
Setelah itu, proses seleksi berlanjut. Mereka mengikuti tes psikologis pada 1-3 Maret 2025 di Universitas Haluoleo (UHO), lalu menjalani pemeriksaan kesehatan umum dan jiwa di RS dr. Ismoyo serta tes mental ideologi di Korem 143/HO antara 8-23 Maret 2025. Pengumuman hasil tahapan ini disampaikan pada 29 Maret 2025 melalui situs resmi SPPI.
“Di sini masih aman, saya dan teman-teman lain lulus, disampaikan sesuai link resmi SPPI yakni https://spp.indonesia.com,” kata Arya kepada media, Rabu (9/04/2025).
Mengacu pada pengumuman resmi itu, para peserta yang lulus diminta melapor di lokasi yang telah ditentukan pada Rabu (9/4), yakni di Lapangan Tenis Indoor Makorem 143/HO untuk mengikuti tahapan lanjutan.
“Makanya hari ini kita diarahkan kumpul di Korem. Ada yang dari Buton, Kolaka, Baubau, sama daerah lain. Kita sudah datang semua, bawa persiapan yang telah diarahkan, lengkap semua,” ungkapnya.
Namun, kejutan pahit menyambut mereka. Setibanya di Korem, Arya dan sejumlah peserta lain mendapati nama mereka tidak lagi tercantum sebagai peserta yang lulus. Padahal sebelumnya sudah ada pengumuman resmi, dan tidak ada informasi yang mengabarkan perubahan status kelulusan.
Setelah menelusuri, diketahui ada pengumuman baru yang dikeluarkan secara mendadak pada 7 April 2025, tanpa pemberitahuan melalui email maupun situs resmi.
“Di email tidak ada info, notifikasi dari WEB juga tidak ada. Makanya kita kaget. Kita yang sudah lulus tiba-tiba berubah jadi tidak lulus. Sedangkan yang tidak lulus, tiba-tiba namanya lulus,” sesalnya.
Arya bersama rekan-rekannya kemudian berupaya mencari klarifikasi ke pihak Korem 143/HO, di mana Brigjen TNI Laode Muhamad Aries disebut sebagai penanggung jawab seleksi SPPI di Sultra. Namun, mereka hanya ditemui oleh anggota stafnya.
“Tadi sore bawahannya mengkonfirmasi langsung ke Pak Aries. Katanya, pengumuman akhir yang digunakan bukan tanggal 29 Maret, tapi tanggal 7 April. Makanya aneh-aneh ini,” ucapnya.
Kekecewaan pun membuncah di kalangan peserta. Mereka merasa telah mengikuti seluruh tahapan dengan baik dan dinyatakan lulus secara resmi, namun tiba-tiba dicoret tanpa alasan jelas.
“Sangat kecewa. Katanya pihak penyelenggara, kita-kita yang lulus 29 Maret sekitar 20 orang lebih ternyata sudah dipastikan tidak lulus di pengumuman tanggal 7 April. Ini aneh sekali,” pungkasnya.(**)
Comment