Mantan Wonderkid Timnas, Syakir Sulaiman, Ditangkap Atas Dugaan Kepemilikan Obat Terlarang

EDISIINDONESIA.id-Mantan pemain Timnas Indonesia U-23, Syakir Sulaiman, ditangkap polisi pada Selasa (5/11/2024) di Cianjur, Jawa Barat, atas dugaan kepemilikan obat-obatan terlarang. Penangkapan ini menjadi pukulan telak bagi mantan “wonderkid” sepak bola Indonesia tersebut.

Penangkapan Syakir dilakukan setelah polisi menerima laporan masyarakat tentang peredaran obat terlarang di daerah tersebut. Saat penangkapan, polisi menyita 2.700 butir obat berbagai jenis yang diduga akan diedarkan oleh Syakir ke sejumlah tempat.

Akibat perbuatannya, Syakir terancam hukuman penjara maksimal 15 tahun, sesuai pasal 35 jo pasal 435 ayat 2 Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.

Syakir Sulaiman dikenal sebagai salah satu “wonderkid” sepak bola Indonesia pada awal kariernya. Namanya mulai mencuat pada 2010 saat memperkuat PSSB Bireun, kemudian pindah ke Persiraja. Tahun 2013 menjadi momen terbaiknya ketika berhasil mencetak sembilan gol bersama Persiba Balikpapan di kompetisi Indonesia Super League (ISL). Atas pencapaian itu, ia dianugerahi gelar Pemain Muda Terbaik ISL 2013.

Syakir juga pernah menjalani trial di klub Jepang, Ventforet Kofu, pada 2013 sebagai bagian dari program Japan Professional Footballers Association (JPFA). Meskipun akhirnya gagal, pengalaman ini menambah perjalanan karier Syakir di dunia sepak bola.

Pada 2014, Syakir dipanggil memperkuat Timnas Indonesia U-23 di bawah asuhan pelatih Aji Santoso untuk persiapan Asian Games 2014 di Korea Selatan. Di ajang tersebut, Garuda Muda berhasil melaju hingga babak 16 besar.

Sepanjang kariernya, Syakir juga membela beberapa klub besar seperti Sriwijaya FC (2014), Bali United (2015), dan kembali ke Aceh United pada 2018 hingga akhirnya memutuskan gantung sepatu pada 2019.

Setelah itu, Syakir tetap aktif bermain di sejumlah turnamen antar kampung (tarkam) di daerahnya. Sayangnya, di penghujung tahun 2024, Syakir justru tersandung kasus hukum yang merusak reputasinya sebagai mantan pemain nasional.

Kasus ini menjadi pelajaran bagi para atlet, bahwa kesuksesan di lapangan hijau tidak menjamin mereka terhindar dari masalah hukum.(edisi/pojoksatu)

Comment