Kampanye di Yogyakarta, Ganjar Dapat Sambutan Seniman dan Budayawan

EDISIINDONESIA.id – Ribuan orang memadati Alun-Alun Wates di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Minggu (28/1). Mereka menyambut kedatangan calon presiden nomor urut 03, Ganjar Pranowo.

Acara bertajuk Hajatan Rakyat itu dipenuhi lautan manusia sejak pagi. Mereka rela menantikan Ganjar hingga berjam-jam karena panggung penuh dengan hiburan. Grup band Slank turut hadir untuk menghibur massa.

Ketika Ganjar tiba, suasana langsung meriah. Teriakan Ganjar Presiden langsung menggema. Warga langsung histeris dan menyambut Ganjar dengan mengacungkan jari tiga.

“Ganjar Presiden. Ganjar wonge dewe,” teriak mereka kompak.

Ganjar langsung menyapa puluhan ribu warga yang ada di sana. Ia langusung membakar semangat para simpatisan dan pendukungnya itu dengan program-program andalannya.

“Bapak ibu, pilih makan siang gratis atau pendidikan gratis?” tanya Ganjar. Warga kompak menjawab lebih memilih pendidikan gratis.

Seorang warga bernama Lily mengatakan bahwa pendidikan gratis lebih penting untuk masa depan anak daripada makan siang gratis.

“Pilih pendidikan gratis, Pak, karena pendidikan lebih penting untuk masa depan anak kami,” kata Lily.

Sejumlah warga kemudian diminta naik ke atas panggung. Selain warga, ada seniman dan budayawan Jogja yang juga naik ke atas panggung.

Terlihat budayawan Butet Kertaradjasa juga ada di sana. Mereka kompak menuliskan harapan di pundak Ganjar.

“Utamakan pendidikan gratis sampai kuliah, Pak. Pekerjaan untuk anak muda dipermudah,” tulis mereka.

Sementara Butet menuliskan kalimat singkat di pundak Ganjar, ia juga menitipkan agar Ganjar melakukan Revolusi Cinta.

“Di pundak saya sudah ditulis harapan-harapan panjenengan. Sebagian besar titip soal pendidikan. Maka ke depan perbaikan kualitas pendidikan menjadi prioritas,” ucap Ganjar.

Sekolah gratis sampai anak berusia 12 tahun harus terwujud. Khusus yang miskin, Ganjar membuat program khusus yakni pendidikan vokasi SMK gratis lulus langsung kerja.

“Kami lanjutkan lagi dengan program satu keluarga miskin satu sarjana. Maka dengan program pendidikan itu, anak-anak dari keluarga tidak mampu bisa mengubah nasib keluarganya,” kata Ganjar. (edisi/jpnn)

Comment