Mahasiswi Bunuh Diri di Indekos, Ditemukan Pesan Terakhir yang Ditulis Tangan

EDISIINDONESIA.id – Secarik pesan yang ditinggalkan EN (24), mahasiswi Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) masih menyisakan tanda tanya.

Dugaan kuat, mahasiswi asal Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah itu mengakhiri hidupnya atau bunuh diri.

EN ditemukan tak bernyawa dengan posisi terlentang mengenakan baju hijau dan celana pendek hitam di kamar indekosnya, Jalan Bulusan Selatan VII, Kelurahan Bulusan, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang pada Rabu (11/10) sekitar pukul 20.30.

Surat yang ditulis tangan oleh korban memuat pesan kepada orang-orang terdekat yang ditinggalkan. Dari pesan tersebut, korban meminta maaf selama masih hidup.

“Gausah cari tau kematian aku ya! Aku bahagia dengan pilihan ini. Aku minta gak usah dibikin booming. Buat orang yang aku tinggalin, maafin aku yah! Aku capek hidup di dunia ini,” tulis pesan perpisahan tersebut.

Kristiwi (43), pemilik indekos tak menyangka, korban ditemukan terbujur kaku membiru di kamar. Dia mengetahuinya setelah sang pacar korban meminta untuk membukakan pintu menggunakan kunci cadangan.

“Setelah saya buka, anaknya sudah terbujur kaku kebiruan, tubuhnya itu putih banget. Saya syok, sampai sekarang masih lemas tidak berangkat kerja,” kata Kristiwi saat ditemui di indekos.

Tiwi, sapaan akrabnya mengatakan tak menaruh curiga terhadap anak kosnya tersebut. Dia mengenal EN sebagai sosok yang baik dan ceria. Bahkan, ketika dia bertemu EN di luar indekos, korban selalu menyapanya.

“Anaknya baik, dan ceria. Mudah bergaul, kalau ketemu di jalan suka menyapa ‘ibu’ gitu biasa teriak memanggil saya. Anaknya cantik, tinggi seperti model,” katanya.

Tiwi tak banyak mengetahui kepribadian EN. Pasalnya, dia selain bekerja pulang malam, korban juga jarang berada di indekos.

“Soalnya anaknya kuliah sambil kerja,” katanya.

Terakhir, dia berinteraksi dengan korban melalui pesan WhatApps pada 5 Oktober lalu. Saat itu, Tiwi menagih pembayaran bulanan indekos yang menunggak dua bulan.

“Agak lama baru dibalas bilang maaf baru ada kuota internet. Katanya nanti tanggal 15 akan dibayar dua bulan sekalian. Lha ini belum tanggal 15 malah sudah pergi selamanya,” ujarnya.

Tiwi sudah menganggap seluruh anak yang menumpang sementara di indekosnya seperti anak sendiri. Termasuk EN, yang hampir dua tahun menempati indekosnya.

“Semua anak kos ini saya anggap sebagai anak sendiri,” katanya.

Seusai penemuan jenazah, dirinya menghubungi kepolisian. Saat itu juga, aparat kepolisian melakukan pemeriksaan, memasang garis kuning kepolisian, dan membawa jenazah ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Kariadi Kota Semarang.

“Pamannya dari Ungaran ke sini, terus mengurus kematiannya ke Rumah Sakit Kariadi,” katanya. (edisi/jpnn)

Artikel ini tidak ditujukan menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Jika Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan untuk bunuh diri, segeralah berkonsultasi kepada psikolog, psikiater, atau pihak-pihak yang kompeten di bidang kesehatan mental.

Comment