EDISIINDONESIA.id – PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) sedang membangun smelter nikel di Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) dengan kapasitas produksi 33.000 MT nikel per tahun.
PT BMS merupakan salah satu anak usaha Kalla Group yang bergerak dibidang proyek pengolahan Mineral (smelter) dengan produk akhir berupa ferronickel dan stainless steel.
Informasi yang dihimpin media ini, kontruksi bagian awal pembangunan smelter telah terselesaikan. Diantaranya area power house HEPP 3X75 MW dengan progres pengerjaan mencapai 63,58 persen.
Kemudian untuk mencukupi pasokan listrik, dibangun pula transmisi sebesar 150kV yang kini telah progres 53,3 persen.
Pembangunan bendungan air untuk menyuplai air yang kini telah mencapai 93,65 persen yang direncanakan selesai lebih cepat dari yang lainnya.
BMS juga membangun dermaga pribadi atau Private Terminal (Jetty) untuk sarana kemudahan mobilisasi perusahaan yang telah mencapai 66,34 persen progres terakhir. Sehingga, total pembangunan terakhir kawasan BMS telah mencapai 54,34 persen per Juli 2023.
Smelter PT BMS saat ini telah menggunakan teknologi Electric Furnace (EF) yang menjadi teknologi terdepan dalam industi smelter nikel di Indonesia.
Pembangunan smelter anak usaha Kalla Group itu direncanakan akan rampung dan mulai beroperasi pada bulan ini, September 2023.
Saat meninjau lokasi pemmbangunan smelter beberapa waktu lalu, Jusuf Kalla mengatakan, bahan baku yang akan di produksi nantinya didatangkan dari luar, utamanya dari Sulawesi Tenggara.
“Bahan baku nikel akan kami datangkan dari beberapa tempat di Sulawesi Tenggara,” kata mantan Wakil Presiden RI ini kepada awak media.
Untuk diketahui, selain pembangunan smelter ferro nickel dengan kapasitas 30.000 MT, PT BMS juga membangun smelter battery grade dengan kapasitas 31.400 MT yang ditargetkan rampung pada Juli 2024, serta membangun production house dengan kapasitas 3×75 MW yang terletak di PLTA Malea, Kabupaten Tana Toraja.
Comment