KENDARI, EDISIINDONESIA.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) mengimbau masyarakat untuk mensubstitusi karbohidrat dengan pangan lokal, apalagi Provinsi Sultra kaya akan hal tersebut.
Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Sultra, Ari Sismanto mengatakan bahwa ketahanan pangan adalah kondisi suatu daerah tercukupi pangan dengan memanfaatkan seluruh sumber daya potensi yang dimiliki, sehingga daerah dikatakan mandiri dan berdaulat pangan.
“Artinya hak bagi setiap individu masyarakat untuk mendapatkan makanan yang beragam bergizi dan sehat dan aman,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (15/2/2023).
Beragama itu kata dia, tidak cuma beras tetapi untuk Sultra sendiri kaya dengan pangan lokal, untuk itu ia mengimbau masyarakat untuk mensubstitusi karbohidrat dengan pangan lokal karena kenyang itu tidak harus dengan nasi.
“Jadi slogan di ketahanan pangan itu mengatakan bahwa kenyang itu tidak harus dengan nasi, kenapa ? karena nasi bisa di substitusi dengan Sagu, Kabuto, Kambose, Sinole, Sinonggi dan bahkan sekarang juga di Sultra sedang dikembangkan Sorgum,” ungkapnya.
Ia mengatakan, semua pangan lokal tersebut memiliki karbohidrat dan Provinsi Sultra kaya akan hal tersebut. Bahkan Pemprov Sultra telah memperdakan terkait pangan lokal, yang harus terus dilestarikan.
“Saya menghimbau dan mengedukasi masyarakat agar bersama-sama memanfaatkan pangan lokal dan ayo masyarakat makan yang B2SA, yaitu beragam, bergizi, aman dan sehat,” Imbaunya.
Dimana kebiasaan mengkonsumsi makanan B2SA harus dimulai sejak anak-anak, untuk menjadikan satu generasi bangsa yang produktif, sehat, cerdas, dan handal.
“Karena anak-anak kita sekarang ini lebih mencintai pangan yang siap saji atau instan, yang sebenarnya belum tentu dijamin kesehatannya dan dijamin kualitasnya,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan kepada masyarakat untuk melakukan makan yang bijak, artinya makan yang cukup dan tidak berlebihan tidak memaksa dan berlebihan sehingga sampah makanan itu tidak terlalu banyak.
“Kita bisa lihat di rumah-rumah kita kadang masih membuang sisa makanan apalagi kalau ada pesta, begitu banyaknya sampah makanan,” ujarnya.
Lanjut ia meminta kepada masyarakat agar memanfaatkan lahan kosong pekarangan yang masih ada untuk ditanami apa saja, seperti sayuran dan buah, minimal kebutuhan keluarga tercukupi dari pekarangan.
“Kalaupun produksinya lebih bisa menambah pendapatan keluarga dengan dijual. Secara estetika lingkungan menjadi asri, udara menjadi segar dan dengan memanfaatkan lahan pekarangan keamanan pangan yang akan dikonsumsi lebih aman dengan tidak ada kandungan pestisida,” tutupnya. (**)
Comment