Penjelasan BMKG soal Cuaca dan Aksi Pawang Hujan di MotoGP Mandalika

Mbak Rara, pawang hujan di Sirkuit Mandalika.

EDISIINDONESIA.com – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika atau BMKG memberikan tanggapan cuaca dan keberadaan pawang hujan dalam gelaran MotoGP Indonesia di Mandalika, Lombok pada 20 Maret 2022 lalu.

BMKG menyatakan, pawang hujan tidak menghentikan hujan di Sirkuit Mandalika. Hujan telah diprediksi akan terjadi pada Sabtu (19/3) hingga Minggu (20/3) di Sirkuit Mandalika.

I Putu Sumiana, koordinator Bidang Observasi dan Informasi BMKG Stasiun Zainuddin Abdul Madjid, Lombok mengatakan, pihaknya sudah memprediksi pada Sabtu hingga Minggu (20/3), hujan akan turun. ”Dari analisis pada 15 Maret, kami sudah memprediksi bahwa hujan akan turun pada 18–20 Maret. Kami membuat prakiraan cuaca selama 3 hari dan tiap 3 jam sekali,” kata Sumiana ketika dihubungi pada Selasa (22/3).

Akurasi analisis itu berada di angka 83,3 persen. Dia mengakui, akurasi tidak bisa 100 persen. ”Akurasi kita 83,3 persen ini memang sudah baik. Karena tidak ada prediksi yang akurasinya 100 persen. Kesempurnaan milik Tuhan. Kalau akurasinya di atas 75 persen itu sudah baik,” ujar Putu Sumiana.

Bahkan, akurasi prediksi cuaca pada Minggu (20/3) sampai 100 persen. Prediksi itu mengatakan bahwa pada saat kompetisi berlangsung hujan akan turun.

”Tanggal 20 (Minggu) itu memang hujan. Jadi pas dengan prediksi kita. Termasuk hujan saat event berlangsung,” ucap Putu Sumiana.

Disinggung soal peran pawang hujan, Sumiana mengatakan, pihaknya tidak bisa mengatakan apakah pawang hujan sungguh-sungguh bisa membuat hujan berhenti ataupun datang. Sebab, belum ada teknologi ataupun ilmu yang membuktikan hal tersebut.

”Ini kepercayaan masyarakat. Kami, BMKG hanya bisa melakukan prediksi cuaca berdasar ilmu pengetahuan,” terang Putu Sumiana.

Sementara itu, Ady Hermanto, Koordinator Prakirawan BMKG Tanjung Perak mengatakan, BMKG memiliki teknologi untuk modifikasi cuaca. Meski tidak 100 persen akurat, teknologi itu disebut menjadi ikhtiar atau usaha.

”Teknologi modifikasi cuaca (TMC) ini memungkinkan untuk membuat awan di wilyaha tertentu. Jadi melakukan penyebaran garam di area yang ingin ditumbuhkan awan. Jadi akan terjadi inti-inti kondensasi yang membuat awan berkumpul. Kalau menurut orang awam, awannya dialihkan gitu ya,” tutur Ady. (**)

Sumber: Jawa Pos

Comment