EDISIINDONESIA.com – Selama 76 tahun kemerdekaan, kepemimpinan nasional didominasi oleh kaum pria. Indonesia baru pernah dipimpin oleh figur perempuan satu kali, yaitu Megawati Soekarnoputri. Pengalaman itu sepertinya membuat publik berharap kembali ada figur perempuan yang bisa memimpin negara ini.
Harapan itu terpotret dalam survei NEW INDONESIA Research & Consulting. Dari survei tersebut menyatakan bahwa 83,3 persen responden setuju Indonesia dipimpin oleh figur perempuan. Baik pada posisi presiden atau wakil presiden.
“Mayoritas publik setuju Indonesia dipimpin perempuan, asalkan punya pengalaman politik yang mendukung,” ungkap Direktur Eksekutif NEW INDONESIA Research & Consulting Andreas Nuryono dalam siaran persnya di Jakarta, pada Rabu (16/2).
Di bagian lain, sample pada survei sebesar 13,8 persen menyatakan menolak kepemimpinan perempuan. Sisanya 2,8 persen mengaku tidak tahu atau tidak jawab.
Adapun survei NEW INDONESIA Research & Consulting dilakukan pada 1-10 Februari 2022. Survei itu mengambil 1.200 orang sampel yang dianggap mewakili seluruh provinsi. Metode survei multistage random sampling, dengan margin of error lebih kurang 2,89 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Sejauh ini sejumlah tokoh perempuan yang cukup menonjol berkiprah di pentas politik cukup banyak. Di antaranya ada di PDIP, PSI, dan beberapa partai politik (parpol) lainnya.
Di PDIP terdapat Puan Maharani. Andreas mengatakan, Puan Maharani dianggap sebagai sosok yang mewakili regenerasi trah Soekarno di tubuh PDIP. Puan Maharani pun sempat digadang-gadang sebagai calon presiden ataupun wakil presiden. Kini Puan menjabat sebagai Ketua DPR-RI.
Sebelumnya Puan juga pernah menjadi Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK). Tepatnya pada periode 2014-2019. “Artinya Puan memiliki pengalaman politik yang mumpuni sebagaimana diinginkan publik,” tandas Andreas.
Di PSI terdapat Grace Natalie dan Dea Tunggaesti. Parpol berwarna merah itu dianggap juga pro perempuan. “Isu perempuan menjadi program utama yang diusung PSI dalam kampanye. Di antaranya menolak poligami dan Perda-Perda yang diskriminatif,” jelas Andreas.
Pada survei lain sebelumnya selama ini banyak mengedepankan tokoh laki-laki. Tokoh tersebut selama ini mendominasi pentas politik nasional. Namun dari survei NEW INDONESIA Research & Consulting, figur perempuan ternyata dapat diterima oleh publik. (**)
Comment