Sepanjang 2021, BPOM Kendari Temukan Ribuan Kosmetik Ilegal

Temuan produk kosmetik dan obat-obatan oleh BPOM Kendari sepanjang tahun 2021. (Foto: Febi Purnasari)

KENDARI, EDISIINDONESIA.com – Terhitung sejak Januari hingga Desember 2021, Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), menemukan ribuan jenis kosmetik dan obat-obatan yang beredar di pasaran Tanpa Izin Edar (TIE) alias ilegal.

Kepala BPOM Kendari, Yoseph Nahak Klau, menegaskan, peredaran ilegal ribuan jenis kosmetik dan obat-obatan tersebut ditemukan tersebar dilima Kabupaten/Kota di Sutra, yakni Kota Kendari, Kabupaten Kolaka, Bombana, Konawe, dan Konawe Selatan (Konsel).

Menurutnya, dari hasil pengawasan yang dilakukan pihaknya dipasaran, BPOM Kendari mencatat, produk yang Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK) didominasi produk kosmetik, disusul obat-obatan dan obat tradisional yang mengandung bahan kimia berbahaya.

Untuk produk kosmetik, kata dia, ditemukan sebanyak 3.801 pcs yang tidak memiliki izin edar dari 277 item.

Tidak hanya itu, Yoseph juga menegaskan, produk obat yang tidak memenuhi ketentuan ditemukan sebanyak 1.293 pcs dari 93 item, dan obat tradisional sebanyak 251 pcs dari 16 item obat tradisional yang mengandung bahan kimia berbahaya.

“Kita sudah membedakan antara pelaku usaha dengan pelaku yang memang punya niat jahat. Jadi semua tahapan sudah kita lakukan, termasuk peringatan dan pembinaan. Jika para pelaku tetap tidak juga melakukan perbaikan, maka kita akan proses lebih lanjut untuk memberikan efek jera,” tegas Yoseph.

Ia juga menegaskan, dari 58 sarana yang telah dilakukan aksi penertiban pasar pada produk obat dan makanan, hanya terdapat 16 sarana yang memenuhi ketentuan atau sebesar 27,59 persen. Sementara, 42 sarana atau sebesar 72,41 persen lainnya, ditemukan tidak memenuhi ketentuan.

Selain itu, kata dia, pihaknya juga telah melakukan intensifikasi pengawasan mulai 1 hingga 21 Desember 2021, terhadap 39 sarana yakni 16 sarana distributor dan 23 sarana ritel lainnya.

Dari 16 sarana distributor yang diawasi itu, ungkap Yoseph, terdapat 13 sarana yang Memenuhi Ketentuan (MK), sementara 3 sarana lainnya dinyatakan TMK. Dan untuk 23 sarana ritel yang diawasi, 10 sarana dinyatakan MK dan 13 TMK.

“Dari sini dapat diketahui ternyata kepatuhan lebih tinggi datang dari distributor dibanding ritel. Ritel sebagain besar tidak memenuhi ketentuan karena menjual produk yang kadaluwarsa dan sudah rusak,” tuturnya.

Ia menambahkan, adapun total TMK yang ditemukan dalam operasi menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), yakni produk rusak sebanyak 125 item, 12 item kadaluwarsa, serta tidak ada yang TIE.

“Total nilai ekonomis temuan dari hasil intensifikasi jelang Nataru ini yakni 1.442 sebesar Rp 2.043.500,” pungkas Yoseph. (**)


Reporter: Febi Purnasari

 

Comment