EDISIINDONESIA.id – Wacana pembatasan pembelian Pertalite bagi masyarakat dengan penghasilan tertentu kembali menjadi buah bibir.
Pegiat media sosial, Herwin Sudikta, melihat kebijakan tersebut berpotensi semakin mengimpit kelompok kelas menengah.
Herwin menanggapi informasi mengenai masyarakat berpenghasilan Rp6,5 juta yang disebut masuk kategori mampu dan berpotensi tidak lagi dapat membeli Pertalite dalam beberapa bulan ke depan.
Menurutnya, angka tersebut tidak bisa serta-merta menggambarkan seseorang sebagai kelompok masyarakat yang benar-benar berkecukupan, terlebih jika dibandingkan dengan besaran upah minimum di Jakarta.
“Padahal gaji Rp6,5 juta itu mepet tipis sama UMR Jakarta, tapi udah dianggap masuk golongan mampu,” ujar Herwin dikutip fajar.co.id, Kamis (13/8/2026).
Pertanyakan Klasifikasi Desil DTSEN
Herwin juga mempertanyakan klasifikasi kesejahteraan masyarakat berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang beredar.
Jika merujuk pada DTSEN, terdapat 10 kelompok kesejahteraan, mulai dari Desil 1 kategori sangat miskin hingga Desil 10 kategori sangat kaya.
Pada data tersebut, kelompok Desil 8 berada pada estimasi pendapatan atau pengeluaran keluarga per bulan Rp4 juta hingga Rp6,5 juta dan masuk kategori menengah atas.
Sementara Desil 9 berada pada rentang Rp6,5 juta-Rp12 juta dan dikategorikan mampu atau kaya.
Adapun Desil 10 tercantum sebagai kelompok sangat kaya dengan pendapatan di atas Rp12 juta.
Data tersebut juga mencantumkan karakteristik kepemilikan aset dan kondisi rumah serta status bantuan sosial untuk masing-masing kelompok desil.
Merujuk pada klasifikasi tersebut, Herwin mempertanyakan posisi masyarakat yang berada di sekitar batas atas kelompok menengah.
“Ini bukan kebetulan,” timpalnya.
Herwin kemudian mengaitkan perubahan klasifikasi dan kebijakan subsidi dengan kondisi kelas menengah yang menurutnya semakin tertekan.
“Udah berkali-kali gue bahas bagaimana gerakan pemerintah buat menghapus kelas menengah ini semakin masif dan terstruktur,” tegasnya.
Ia menggambarkan posisi kelompok tersebut berada di antara masyarakat penerima subsidi dan kelompok yang memiliki kemampuan ekonomi lebih kuat.
“Terlalu kaya buat dapat subsidi, terlalu miskin buat benar-benar mampu,” tandasnya.
Herwin bilang, kondisi itu membuat kelompok kelas menengah harus menghadapi tekanan dari dua sisi.
“Golongan menengah semakin tercekik di tengah,” kuncinya. (edisi/fajar)
Comment