EDISIINDONESIA.id – PT Pertamina (Persero) menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis solar, yakni Pertamina Dex dan Dexlite, serta Pertamax Turbo mulai Rabu (1/7/2026).
Berdasarkan laman resmi Pertamina, Rabu (1/7/2026), di wilayah Jabodetabek, harga BBM nonsubsidi jenis solar Pertamina Dex Series, yakni Dexlite (CN 51), turun menjadi Rp 19.700 per liter dari sebelumnya Rp 23.000 per liter pada Juni 2026.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Dyah Titis Kusuma Wardani mengatakan normalnya kembali jalur pelayaran yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak mentah dunia memang mengurangi ketidakpastian pasokan energi global.
Namun, dampaknya lebih besar dalam menjaga stabilitas harga dibandingkan mendorong penurunan harga minyak secara drastis.
Pembukaan kembali Selat Hormuz memberikan sentimen positif dan menurunkan risk premium geopolitik di pasar minyak dunia. Namun, harga minyak tidak otomatis turun drastis karena pasar masih mempertimbangkan faktor lain, seperti produksi OPEC+, permintaan dari China dan Amerika Serikat (AS), serta kondisi stok minyak global,” ujar Dyah, Selasa (30/6/2026).
Menurutnya, anggapan dibukanya kembali Selat Hormuz akan langsung membuat harga BBM di Indonesia turun merupakan persepsi yang kurang tepat. Sebab, penentuan harga BBM nasional dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari harga minyak mentah dunia, rata-rata Indonesian Crude Price (ICP), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, biaya pengadaan dan distribusi, hingga kontrak pembelian minyak yang telah berjalan.
“Harga BBM tidak ditentukan hanya oleh satu peristiwa dalam satu hari. Dibukanya Selat Hormuz memang mengurangi tekanan terhadap harga minyak dunia, tetapi tidak serta-merta membuat harga BBM langsung turun keesokan harinya,” katanya.
Dyah menjelaskan dampak perubahan harga minyak dunia juga berbeda antara BBM subsidi dan nonsubsidi. Untuk BBM nonsubsidi seperti Pertamax, penyesuaian harga cenderung lebih cepat mengikuti mekanisme pasar. Sementara itu, BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar masih dipengaruhi kebijakan subsidi serta kompensasi pemerintah.
“Ketika harga minyak dunia naik, pemerintah menahan dampaknya melalui subsidi sehingga beban fiskal negara meningkat. Sebaliknya, jika harga minyak turun, ruang fiskal pemerintah menjadi lebih longgar. Jadi, masyarakat tidak langsung merasakan seluruh fluktuasi harga minyak dunia karena ada intervensi pemerintah,” paparnya.
Selain perkembangan geopolitik, nilai tukar rupiah juga menjadi faktor penting yang memengaruhi harga BBM domestik. Pelemahan rupiah dapat mengurangi manfaat dari turunnya harga minyak dunia karena sebagian besar transaksi impor minyak menggunakan dolar AS.
Berikut daftar harga BBM Pertamina di wilayah Jabodetabek yang berlaku mulai 1 Juli 2026:
– Pertamax (RON 92): tetap Rp 16.250 per liter (tidak berubah).
– Pertamax Green (RON 95): tetap Rp 17.000 per liter (tidak berubah).
– Pertamax Turbo (RON 98): turun Rp 1.450 per liter, dari Rp 20.750 menjadi Rp 19.300 per liter.
– Dexlite (CN 51): turun Rp 3.300 per liter, dari Rp 23.000 menjadi Rp 19.700 per liter.
– Pertamina Dex (CN 53): turun Rp 3.650 per liter, dari Rp 24.800 menjadi Rp 21.150 per liter.
– Pertalite: tetap Rp 10.000 per liter (tidak berubah).
– Biosolar: tetap Rp 6.800 per liter (tidak berubah). (edisi/bs)
Comment