PDIP Pertanyakan Urgensi Latihan Militer Manajer Kopdes dan Minta Program Dihentikan

EDISIINDONESIA.id – Meninggalnya tiga peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) saat mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) menuai perhatian dari berbagai pihak.

Kali ini, kritik datang dari kader PDI Perjuangan (PDIP), Mohamad Guntur Romli. Ia mempertanyakan alasan di balik pemberian pelatihan bergaya militer kepada calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Dikatakan Guntur, pelatihan tersebut tidak selaras dengan tugas utama yang nantinya dijalankan para pengelola koperasi.

Pertanyakan Urgensi Latihan Militer

Guntur menyebut tragedi yang menewaskan tiga peserta harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh terhadap konsep pelatihan yang diterapkan.

Ia mempertanyakan urgensi memasukkan unsur kemiliteran kepada calon pengelola lembaga ekonomi desa.

“Apa sebenarnya urgensi memiliterisasi pengelola lembaga ekonomi desa?” ujar Guntur, dikutip fajar.co.id, Jumat (26/6/2026).

Menurut Guntur, koperasi membutuhkan sosok manajer yang memiliki kemampuan mengelola usaha, bukan kemampuan layaknya prajurit.

“Koperasi membutuhkan manajer yang cakap dalam menyusun strategi bisnis, mengelola manajemen keuangan, organisasi, dan memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat,” ucapnya.

Ia menekankan bahwa keberhasilan koperasi lebih ditentukan oleh kompetensi manajerial dibandingkan ketahanan fisik hasil pelatihan militer.

“Kompetensi profesional inilah yang menjadi urat nadi keberhasilan usaha, bukan ketahanan fisik ala prajurit perang,” jelasnya.

Karena itu, ia menganggap pendekatan pelatihan fisik bergaya militer terhadap warga sipil merupakan kekeliruan mendasar.

“Memaksakan menu latihan tempur yang berat kepada warga sipil demi dalih kedisiplinan adalah kekeliruan konseptual yang sangat fatal. Koperasi bukanlah barak militer,” sesalnya.

Pemeriksaan Kesehatan Peserta Disoal

Selain mengkritik konsep pelatihan, Guntur juga mempertanyakan mekanisme pemeriksaan kesehatan sebelum peserta mengikuti Latsarmil.

Kata dia, proses skrining kesehatan yang dilakukan secara profesional semestinya mampu mengidentifikasi peserta yang berisiko mengalami gangguan kesehatan saat menjalani aktivitas fisik berat.

“Pertanyaan mendasar yang harus dijawab, apakah tidak ada medical check-up atau pemeriksaan kesehatan yang ketat sebelum peluit pertama Latsarmil?” tutur Guntur.

“Jika skrining kesehatan awal dilakukan dengan benar dan profesional, potensi risiko fatal akibat aktivitas fisik ekstrem seharusnya dapat dideteksi dan dicegah sejak dini,” tambahnya.

Ia menilai peristiwa tersebut menunjukkan adanya dugaan kelalaian dalam mengukur kesiapan fisik peserta yang berasal dari kalangan sipil.

“Kelalaian dalam mengukur kapasitas fisik peserta sipil. Hal ini menunjukkan adanya kecobohan yang nyata,” jelasnya.

Minta Program Dihentikan

Lebih jauh, Guntur menekankan bahwa meninggalnya tiga peserta tidak dapat dipandang semata sebagai musibah.

“Kematian tiga nyawa ini bukan sekadar musibah, melainkan alarm keras atas adanya kesalahan prosedur dan salah kaprah konsep kegiatan,” bebernya.

Baginya, kejadian tersebut menjadi peringatan keras bahwa terdapat persoalan dalam konsep maupun pelaksanaan kegiatan.

“Ketika orientasi pembinaan mental bergeser menjadi taruhan nyawa, maka tidak ada pilihan lain. Kegiatan ini harus segera dihentikan total,” ucap Guntur.

Ia juga meminta penyelenggara program tidak sekadar menyebut kejadian tersebut sebagai musibah, tetapi bertanggung jawab sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

“Mereka harus bertanggung jawab secara hukum, baik secara perdata maupun pidana atas kelalaian dalam manajemen risiko yang telah merenggut hak hidup para calon manajer ini,” tandasnya.

“Penegakan hukum yang tegas adalah satu-satunya cara agar diklat semi-militer yang salah sasaran ini tidak kembali memakan korban,” kuncinya.

Kemhan Benarkan Satu Peserta Meninggal Dunia

Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Setjen Kemhan Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait membenarkan adanya laporan meninggalnya salah satu peserta SPPI KNMP Tahun 2026.

Peserta tersebut diketahui bernama Novia Rahmadhani Sihotang yang mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan (Satdik) Pusat Bahasa Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Udara (Pusbahasa Kodiklatau), Jakarta.

“Benar, Kementerian Pertahanan telah menerima laporan mengenai meninggalnya salah satu peserta Program SPPI KNMP Tahun 2026 atas nama Novia Rahmadhani Sihotang yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta,” kata Rico Ricardo Sirait, dilansir dari Kompas.com, Kamis (25/6/2026).

Rico menjelaskan Novia mulai mengalami gangguan kesehatan pada 22 Juni 2026. Setelah keluhan muncul, tim kesehatan satuan langsung memberikan penanganan sesuai prosedur.

Namun, kondisi peserta tersebut terus menurun sehingga harus dirujuk ke Rumah Sakit Angkatan Udara (RSAU) dr. Esnawan Antariksa untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

“Meskipun telah memperoleh perawatan intensif, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia pada 23 Juni 2026. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, kondisi kesehatan yang dialami berkaitan dengan penyakit tuberkulosis (TB),” jelasnya.

Kemhan Tegaskan Peserta Lolos Tes Kesehatan

Kemhan menegaskan bahwa seluruh peserta yang mengikuti program SPPI telah melewati tahapan seleksi yang ditetapkan, termasuk pemeriksaan kesehatan.

Menurut Rico, Novia bersama peserta lainnya dinyatakan memenuhi syarat sebelum mengikuti pendidikan dan pelatihan.

“Sejak munculnya keluhan kesehatan, tim medis satuan dan rumah sakit telah melakukan langkah-langkah penanganan sesuai prosedur yang berlaku,” tegasnya.

Atas peristiwa tersebut, Kemhan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga almarhumah.

Selain itu, evaluasi terhadap pelaksanaan program juga tengah dilakukan bersama Panitia Seleksi Nasional dan penyelenggara pendidikan, termasuk penguatan pengawasan kesehatan peserta selama menjalani pelatihan.

Sebelumnya Dua Peserta Meninggal

Sebelum kasus Novia, Kemhan lebih dulu mengumumkan meninggalnya dua peserta lain yang mengikuti Latsarmil dalam program SPPI. Pengumuman tersebut disampaikan pada 23 Juni 2026.

Peserta pertama bernama Anisa Muyassaroh yang menjalani pendidikan di Satuan Pendidikan (Satdik) Dodikjur Resimen Induk Daerah Militer (Rindam) VI/Mulawarman, Balikpapan.

Kata Rico, Anisa mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026 dan sempat mendapatkan penanganan medis sebelum dirujuk ke rumah sakit.

“(Anisa) mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026 dan telah mendapatkan penanganan medis di fasilitas kesehatan satuan sebelum dirujuk ke rumah sakit,” tutur Rico.

“Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat heat stroke,” tambahnya.

Sementara peserta kedua adalah Yonanda Muhammad Taufiq yang mengikuti pendidikan di Satdik Pusat Pendidikan dan Latihan Tempur (Puslatpur) Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat (Kodiklatad) Baturaja.

“(Taufiq) mengalami penurunan kondisi kesehatan pada 17 Juni 2026 dan telah mendapatkan penanganan oleh tenaga kesehatan satuan sebelum dirujuk ke rumah sakit. Berdasarkan keterangan medis, yang bersangkutan dinyatakan meninggal dunia akibat cardiac arrest (henti jantung),” ungkapnya. (edisi/fajar)

Comment