EDISIINDONESIA.id – Di era modern, banyak orangtua bekerja keras demi memberikan kehidupan terbaik bagi anak. Mulai dari sekolah favorit, mainan mahal, gadget terbaru, hingga kebutuhan sehari-hari yang tercukupi. Namun, psikolog mengingatkan bahwa anak tidak hanya membutuhkan fasilitas dan materi.
Psikolog Samanta Elsener menyoroti pentingnya kebutuhan emosional anak yang sering kali terabaikan.
“Masih banyak yang berpikir jadi orangtua cukup memberi makan, sekolah, dan fasilitas saja.
Ternyata anak tidak hanya butuh kebutuhan fisik atau fasilitas yang wah.
Mereka juga butuh:
✅ didengar
✅ dipeluk
✅ divalidasi
✅ merasa aman
Kadang luka terbesar bukan tentang kekurangan materi. Banyak orang dewasa hari ini terlihat sukses, tapi di dalamnya masih ada anak kecil yang haus kasih sayang.”
— Samanta Elsener
Pernyataan tersebut menjadi refleksi penting di tengah meningkatnya pembahasan tentang kesehatan mental, pola asuh, dan hubungan anak dengan orangtua.
Anak Butuh Perhatian Emosional, Bukan Sekadar Materi
Secara psikologis, anak berkembang bukan hanya dari pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga dari hubungan emosional yang sehat dengan orangtua.
Ketika anak merasa didengar, dipahami, dan diterima, mereka cenderung memiliki:
– rasa percaya diri yang lebih baik,
– kemampuan mengelola emosi,
– hubungan sosial yang sehat,
– serta kondisi mental yang lebih stabil saat dewasa.
Sebaliknya, anak yang tumbuh tanpa kedekatan emosional berpotensi mengalami luka batin yang terbawa hingga dewasa. Tidak sedikit orang dewasa yang tampak sukses secara karier, namun masih menyimpan rasa kesepian, takut ditolak, atau sulit membangun hubungan yang sehat.
Dampak Pola Asuh terhadap Kehidupan Dewasa
Dalam unggahannya, Samanta Elsener juga mengajak publik untuk melakukan refleksi:
“Coba refleksikan, waktu kamu kecil orangtuamu lebih fokus kasih fasilitas ke kamu atau kasih perhatian yang kamu butuhkan?
Dan sekarang gimana hubungan kamu dengan orangtua?
Gimana kondisi pekerjaanmu?”
Pertanyaan tersebut relevan karena sejumlah penelitian psikologi menunjukkan bahwa pola hubungan anak dengan orangtua dapat memengaruhi cara seseorang membangun relasi di masa dewasa, termasuk di lingkungan kerja.
Dalam beberapa situasi, seseorang yang sejak kecil tidak memiliki kedekatan emosional dengan orangtuanya bisa mengalami kesulitan menghadapi konflik, kritik, atau hubungan dengan atasan dan rekan kerja.
Namun, kondisi ini tidak berlaku untuk semua orang.
“Ngga terjadi pada semua orang, ya, tapi ada di beberapa situasi seperti ini,” tulis Samanta.
Artinya, pengalaman masa kecil bukan satu-satunya faktor yang menentukan kehidupan seseorang. Lingkungan, pengalaman hidup, pasangan, pertemanan, hingga proses penyembuhan diri juga memiliki pengaruh besar.
Kenapa Validasi Emosi Anak Sangat Penting?
Validasi emosi adalah proses ketika orangtua mengakui dan menerima perasaan anak tanpa langsung menghakimi.
Contohnya:
– Mendengarkan saat anak sedih.
– Tidak meremehkan rasa takut anak.
– Memberi pelukan saat anak kecewa.
– Mengajak anak berbicara dengan tenang.
Hal-hal sederhana seperti ini sering dianggap sepele, padahal sangat berpengaruh terhadap perkembangan mental anak.
Anak yang terbiasa divalidasi cenderung lebih mudah memahami emosinya sendiri dan tidak takut mengekspresikan perasaan secara sehat.
Hubungan Orangtua dan Anak Menentukan Rasa Aman
Psikolog menyebut rasa aman sebagai salah satu fondasi penting dalam perkembangan anak.
Rasa aman tidak selalu berarti rumah mewah atau fasilitas lengkap, tetapi tentang:
– apakah anak merasa diterima,
– apakah ia nyaman bercerita,
– apakah ia merasa dicintai tanpa syarat,
– dan apakah rumah menjadi tempat paling aman untuk pulang.
Ketika kebutuhan emosional ini terpenuhi, anak memiliki peluang lebih besar tumbuh menjadi pribadi yang stabil secara emosional.
Orangtua Juga Manusia, Tapi Kesadaran Tetap Penting
Di sisi lain, menjadi orangtua bukan hal mudah. Banyak orangtua generasi sebelumnya juga tumbuh tanpa pendidikan emosional yang cukup.
Karena itu, penting untuk melihat persoalan ini bukan sebagai ajang menyalahkan orangtua, melainkan sebagai proses belajar bersama.
Kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental anak menjadi langkah awal untuk membangun hubungan keluarga yang lebih sehat.
Tidak harus sempurna, tetapi kehadiran emosional orangtua bisa menjadi hadiah terbesar bagi anak.
Anak memang membutuhkan makan, pendidikan, dan fasilitas yang layak. Namun, kasih sayang, perhatian, validasi, dan rasa aman juga menjadi kebutuhan penting yang tidak boleh diabaikan.
Unggahan Samanta Elsener menjadi pengingat bahwa banyak luka emosional muncul bukan karena kekurangan materi, melainkan karena kurangnya kedekatan dan perhatian.
Meluangkan waktu untuk mendengar cerita anak, memeluk mereka, dan membuat mereka merasa aman bisa memberi dampak besar hingga mereka dewasa nanti. (edisi/fajar)
Comment