Suasana Memanas Menjelang Musda Golkar Sulsel: Calon Mengerucut, Diskresi Ketua Umum Jadi Kunci

EDISIINDONESIA.id-Dinamika politik di tubuh DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan semakin terasa memanas seiring mendekatnya pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda). Sejumlah tokoh partai diketahui telah mendatangi Ketua Umum DPP Golkar, Bahlil Lahadalia, guna menyampaikan keinginan maju sebagai calon pemimpin di tingkat provinsi sekaligus memohon dukungan dan restu.

Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD I Golkar Sulsel, Muhidin M Said, membenarkan adanya pertemuan antara para kader dan pimpinan pusat. Meski demikian, ia enggan menyebutkan secara rinci siapa saja tokoh yang telah menemui Bahlil.

“Memang sudah ada yang bertemu Ketua Umum, namun semua pihak akan kami libatkan dalam proses ini. Pada akhirnya, satu nama pemimpin akan ditetapkan melalui kesepakatan bersama,” ujar Muhidin, Rabu (6/5/2026).

Menurutnya, persaingan dan pergerakan yang terjadi saat ini merupakan hal yang wajar dan justru menunjukkan semangat positif. Banyaknya figur yang berminat memimpin dinilai sebagai tanda bahwa kader ingin melihat partai ini semakin kuat dan berpengaruh di Sulawesi Selatan.

“Ini hal yang baik karena menandakan ada keinginan besar untuk membesarkan Golkar. Namun pada akhirnya, kita akan tetap mengutamakan musyawarah mufakat. Seluruh kader dan pemilik hak suara akan dilibatkan, tidak ada satu pun yang diabaikan,” tegasnya.

Anggota DPR RI ini juga menegaskan bahwa wewenang khusus atau diskresi dari Ketua Umum memegang peranan penting dalam proses pencalonan. Hal ini terutama berlaku bagi calon yang belum memenuhi syarat administrasi minimal, baik dari sisi dukungan 30 persen maupun kriteria Prestasi, Dedikasi, Loyalitas, dan Tidak Tercela (PDLT).

“Bagi yang belum memenuhi syarat PDLT, peluang maju sangat bergantung pada kebijakan Ketua Umum. Jika tidak ada diskresi yang diberikan, berarti belum mendapat izin untuk bertarung,” tambahnya.

Sementara itu, Plt Wakil Sekretaris DPD I Golkar Sulsel, Arief Rosyid, menyebutkan bahwa nama calon saat ini sudah mulai mengerucut. Ia memperkirakan tidak akan ada tambahan nama baru karena waktu pelaksanaan yang semakin dekat.

“Perkiraan saya, daftar calon sudah tidak bertambah lagi mengingat waktu yang makin mepet. Namun keputusan akhir tetap berada di tangan Pak Ketum Bahlil,” ujar Arief. Ia juga menambahkan bahwa Musda Golkar Sulsel direncanakan digelar pada pertengahan Mei 2026, atau tepat sebelum perayaan Hari Raya Iduladha.

Dua Nama Utama dan Tantangan yang Dihadapi

Sebelumnya, Arief juga telah menyampaikan bahwa hingga akhir April lalu, kandidat calon ketua hanya menyisakan dua nama besar, yaitu Ilham Arief Sirajuddin dan Andi Ina Kartika Sari. Kedua tokoh ini dikonfirmasi telah dipanggil secara khusus dan melakukan pertemuan terpisah dengan Bahlil Lahadalia di Jakarta.

“Hingga hari ini, hanya dua nama itu yang dipanggil langsung oleh Pak Ketua Umum,” kata Arief pada Kamis (30/4/2026).
Salah satu nama yang menjadi sorotan utama adalah Ilham Arief Sirajuddin atau yang akrab disapa IAS. Mantan Wali Kota Makassar dua periode ini dikabarkan sedang berjuang mendapatkan diskresi khusus dari pimpinan pusat, karena menghadapi sejumlah kendala administrasi dan aturan internal partai.

Salah satu syarat utama yang belum dipenuhi adalah masa pengabdian di kepengurusan. Sebagai calon ketua DPD I, seseorang diwajibkan memiliki riwayat aktif dalam kepengurusan selama jangka waktu tertentu, sedangkan IAS dinilai belum genap satu periode menjabat pengurus, baik di tingkat daerah maupun pusat.

Selain persoalan administrasi, latar belakang politik keluarga juga menjadi catatan penting bagi DPP Golkar. Istri dan anak IAS diketahui masih aktif dan memegang jabatan di partai politik lain, yaitu Partai NasDem dan Partai Demokrat. Kondisi ini menjadi bahan pertimbangan serius terkait aspek soliditas dan loyalitas kader terhadap Golkar.

Meski menghadapi berbagai kendala tersebut, posisi politik IAS tetap kuat. Pengalamannya memimpin kota besar selama dua periode, serta jaringan dan basis pendukung yang masih luas di Sulawesi Selatan menjadikannya figur yang sulit diabaikan. Oleh karena itu, peluangnya untuk maju dalam Musda masih terbuka lebar, asalkan mendapatkan kebijakan khusus langsung dari Ketua Umum Partai Golkar.

Hingga saat ini, kepastian jadwal pelaksanaan maupun nama yang akan mendapatkan dukungan penuh dari pusat masih menunggu keputusan akhir dari Bahlil Lahadalia. Seluruh mata kini tertuju pada kebijakan pimpinan pusat yang akan menentukan arah baru perjalanan Golkar Sulawesi Selatan.(edisi/fajar)

Comment