EDISIINDONESIA.id-Meskipun Iran mengklaim telah membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran komersial, situasi di kawasan tersebut masih diselimuti ketidakpastian.
Amerika Serikat (AS) dilaporkan tetap mempertahankan blokade laut terhadap pelabuhan Iran, sebuah kebijakan yang berpotensi memberikan dampak signifikan pada arus perdagangan global.
Menurut laporan United States Central Command (CENTCOM), sejak blokade diberlakukan, pasukan AS telah mengarahkan puluhan kapal untuk membatalkan niatnya memasuki atau meninggalkan pelabuhan Iran.
“Sejak dimulainya blokade, sebanyak 21 kapal telah mematuhi arahan pasukan AS untuk berbalik dan kembali ke Iran,” demikian pernyataan CENTCOM yang dikutip dari Anadolu Agency pada Sabtu, 18 April 2026.
Operasi penegakan blokade ini melibatkan kapal perusak rudal berpemandu USS Michael Murphy yang berpatroli di Laut Arab. Kapal tersebut bertugas mengawasi dan memastikan kepatuhan terhadap larangan lalu lintas laut yang berkaitan dengan Iran.
Blokade ini diumumkan pada 13 April, menyusul eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran yang telah memanas sejak akhir Februari. Dampaknya langsung terasa pada Selat Hormuz, sebuah jalur pelayaran vital yang dilalui oleh sekitar 20 persen pasokan minyak dunia setiap harinya. Gangguan di jalur ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak serta peningkatan biaya pengiriman dan asuransi.
Di sisi lain, Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz telah kembali dibuka, meskipun dengan pembatasan pada jalur-jalur tertentu. Pernyataan ini muncul sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari di Lebanon, yang mencerminkan adanya upaya meredakan ketegangan. Namun, kondisi di lapangan dilaporkan masih penuh ketidakpastian.
Presiden AS, Donald Trump, menegaskan bahwa blokade tidak akan dicabut dalam waktu dekat. Ia menyatakan bahwa langkah tersebut akan tetap diberlakukan hingga kesepakatan komprehensif dengan Iran tercapai.
Dengan adanya pernyataan yang saling bertolak belakang dari AS dan Iran, Selat Hormuz tetap menjadi sorotan utama geopolitik global. Meskipun ada klaim pembukaan jalur pelayaran, risiko gangguan terhadap perdagangan global masih sangat tinggi, mengingat situasi yang masih penuh ketidakpastian.(edisi/rmol)
Comment