EDISIINDONESIA.id- PT Gunbuster Nickel Industry (PT GNI) di Morowali Utara, Sulawesi Tengah, terancam tutup menyusul pemangkasan produksi dan kebangkrutan perusahaan induknya di China.
Namun, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), yang dibentuk untuk mendanai proyek hilirisasi nikel, bauksit, dan tembaga, berpotensi menjadi penyelamat.
BPI Danantara dilaporkan telah menyiapkan pendanaan awal sebesar 20 miliar dolar AS (sekitar Rp326,1 triliun).
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menyarankan kerja sama Danantara dengan investor domestik untuk mengakuisisi PT GNI, atau akuisisi langsung melalui MIND ID.
“Ini momentum yang baik,” ujar Bhima dalam wawancara dengan Bisnis pada Selasa, 25 Februari 2025. “Akuisisi saham mayoritas GNI dapat mempercepat hilirisasi dengan tata kelola lingkungan dan pekerja yang lebih baik.”
Produksi olahan nikel GNI, menurut Bhima, dapat diintegrasikan dengan proyek pabrik baterai Indonesia Battery Corporation (IBC) atau pabrik PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power di Karawang, Jawa Barat.
Pemangkasan produksi PT GNI disebabkan oleh beberapa faktor: sulitnya pasokan bijih nikel, penundaan pembayaran kepada pemasok energi lokal, dan masalah keuangan perusahaan induk, Jiangsu Delong Nickel Industry Co, yang sedang menjalani restrukturisasi utang di pengadilan China.
Sejumlah alat berat perusahaan terparkir akibat pengurangan produksi. Sejak awal tahun, PT GNI telah menutup sebagian besar dari lebih dari 20 jalur produksinya.
Faktor eksternal lain yang memperparah situasi adalah penurunan harga nikel global sejak akhir 2022, yang menyebabkan pengurangan produksi bijih nikel di Indonesia selama hampir setahun terakhir.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan akan mengevaluasi situasi ini dan potensi penutupan operasional PT GNI.(edisi/rmol)
Comment