EDISIINDONESIA.com – Jumlah kasus positif COVID-19 akibat varian Omicron di Indonesia terus meningkat. Anda perlu waspada karena orang yang terinfeksi varian ini memiliki gejala persis seperti flu biasa, yaitu batuk dan demam.
Menurut ahli, gejala Omicron dapat terasa seperti pilek dan dianggap cukup ringan. Jadi bisa dipastikan Omicron ini lebih seperti flu biasa, namun masyarakat diminta tetap waspada.
Jika mirip seperti flu biasa Lantas bagaimana cara mengenali awal gejala Omicron? dikutip Fin.co.id dari PMJ News, berikut keterangan para ahli:
- Sakit Tenggorokan
Menurut Komisaris Kesehatan Masyarakat Departemen Chicago, dr Allison Arwady, sakit tenggorokan adalah salah satu tanda awal yang paling umum dari omicron.
“Khususnya pada orang-orang yang merasakan gejala lebih ringan, kita pasti melihat sakit tenggorokan menjadi prediktor dalam kelompok itu,” ungkap dr Arwady.
- Batuk
Batuk terus-menerus adalah gejala umum lain dari varian omicron, yang mencerminkan bagaimana gejalanya bisa mirip dengan pilek yang parah.
“Batuk dan kelelahan juga terus menjadi gejala umum bagi orang dengan omicron. Ada yang mengatakan gejala omicron lebih ke paru-paru bagian atas,” kata ahli kedokteran Michigan, Laraine Washer.
- Hidung Tersumbat
“Bagi banyak orang, terutama mereka yang divaksinasi dan sehat, omicron tampaknya memiliki gejala yang relatif ringan, termasuk gejala saluran pernapasan atas atau pilek, seperti hidung tersumbat, bersin, dan sakit tenggorokan, serta sakit kepala,” kata dr Washer.
- Gejala Seperti Dingin
“Gejala klasik demam, batuk, dan kehilangan penciuman sedikit lebih jarang dan hanya dialami pasien varian delta. Gejala seperti pilek menjadi lebih umum,” kata epidemiolog genetik dan pendiri perusahaan kesehatan ZOE (aplikasi pelacakan COVID-19), Tim Spector.
- Kelelahan
Kelelahan adalah gejala yang terkenal dari long Covid, itu juga merupakan indikator kuat infeksi Omicron. “Laporan menunjukkan bahwa pasien di Afrika Selatan (ada yang masih usia muda) mengalami kelelahan parah, tetapi tidak kehilangan rasa atau penciuman,” kata pulmonolog Yale Medicine, Lauren Ferrante. (**)
Comment