Waspada! Minum Kopi dan Teh Panas Berisiko Kanker Kerongkongan

EDISIINDONESIA.id – Kebiasaan menyeruput teh atau kopi segera setelah diseduh mungkin perlu dipertimbangkan kembali, terutama jika minuman tersebut masih dalam kondisi sangat panas.

Penelitian terbaru terhadap hampir 1 juta orang dewasa di Inggris menemukan adanya hubungan antara kebiasaan mengonsumsi minuman sangat panas dan peningkatan risiko salah satu jenis kanker kerongkongan.

Studi yang diterbitkan dalam International Journal of Cancer tersebut menganalisis data 977.282 peserta dari dua studi kesehatan besar di Inggris, yakni Million Women Study dan UK Biobank.

Hasil penelitian menunjukkan orang yang terbiasa mengonsumsi teh atau kopi dalam kondisi sangat panas memiliki risiko sekitar tiga kali lebih tinggi mengalami squamous cell carcinoma (SCC) pada kerongkongan dibandingkan mereka yang memilih minuman dalam kondisi hangat.

Meski demikian, penelitian tersebut tidak membuktikan suhu minuman secara langsung menyebabkan kanker.

Studi ini bersifat observasional sehingga hasilnya menunjukkan hubungan antara kebiasaan minum minuman panas dan risiko kanker kerongkongan, bukan hubungan sebab-akibat yang pasti.

Studi Melibatkan Hampir 1 Juta Orang Dewasa
Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Cancer menggunakan data dari dua studi kesehatan besar di Inggris, yaitu Million Women Study dan UK Biobank. Secara keseluruhan, terdapat 977.282 peserta yang dianalisis dalam penelitian tersebut.

Para peserta diminta melaporkan kebiasaan mengonsumsi teh dan kopi, termasuk suhu minuman yang biasa mereka konsumsi. Pilihan suhu yang diberikan meliputi sangat panas, panas, dan hangat.

Peserta juga melaporkan jumlah cangkir minuman yang dikonsumsi setiap hari. Setelah itu, peneliti memantau kondisi kesehatan mereka selama bertahun-tahun melalui catatan kesehatan nasional untuk mengetahui apakah peserta kemudian didiagnosis mengalami kanker kerongkongan.

Rata-rata, peserta dalam Million Women Study dipantau selama 14,2 tahun, sedangkan peserta UK Biobank dipantau selama 11,1 tahun. Selama periode tersebut, tercatat 2.348 kasus kanker kerongkongan.

Dari jumlah tersebut, 1.045 merupakan SCC dan 1.303 merupakan adenokarsinoma (AC). Peneliti membedakan kedua jenis kanker tersebut karena karakteristiknya berbeda.

Hasil analisis kemudian menunjukkan adanya hubungan yang lebih jelas antara konsumsi minuman sangat panas dan SCC.

Minuman Sangat Panas Berkaitan dengan Risiko SCC
Hasil penelitian menunjukkan kebiasaan mengonsumsi minuman pada suhu sangat panas berkaitan dengan peningkatan risiko SCC, salah satu dari dua jenis utama kanker kerongkongan.

Orang yang melaporkan lebih sering mengonsumsi teh atau kopi dalam kondisi sangat panas memiliki risiko SCC sekitar tiga kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang memilih minuman hangat. Setelah memperhitungkan frekuensi konsumsi, rasio risikonya mencapai 3,17.

Penelitian juga menemukan pola peningkatan risiko seiring dengan semakin tingginya suhu minuman. Artinya, kelompok yang memilih minuman sangat panas menunjukkan risiko SCC yang lebih tinggi dibandingkan kelompok yang memilih minuman hangat.

Sebaliknya, hubungan serupa tidak ditemukan secara jelas pada AC, jenis kanker kerongkongan lainnya. Dalam penelitian tersebut, konsumsi minuman sangat panas tidak menunjukkan hubungan yang jelas dengan peningkatan risiko AC.

Meski angka risikonya terlihat besar, temuan tersebut perlu dilihat dalam konteks kanker kerongkongan merupakan penyakit yang relatif jarang terjadi.

Cancer Research UK menjelaskan risiko seseorang mengalami SCC kerongkongan sepanjang hidup di Inggris berada di sekitar 1%. Oleh karena itu, peningkatan risiko relatif tidak berarti setiap orang yang mengonsumsi minuman sangat panas akan mengalami kanker.

Selain suhu, penelitian tersebut menemukan adanya hubungan antara jumlah minuman panas yang dikonsumsi setiap hari dan risiko SCC.

Orang yang mengonsumsi enam cangkir atau lebih minuman panas setiap hari memiliki risiko SCC 71% lebih tinggi dibandingkan mereka yang mengonsumsi kurang dari enam cangkir. Hubungan tersebut tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan suhu minuman yang dikonsumsi.

Dengan kata lain, hubungan yang ditemukan dalam penelitian bukan hanya berkaitan dengan seberapa panas minuman, tetapi juga seberapa sering minuman panas dikonsumsi.

Jika dilihat berdasarkan jumlah kasus, risiko SCC pada kelompok yang mengonsumsi lebih sedikit minuman panas berada di sekitar satu kasus per 1.000 orang.

Sementara pada kelompok dengan konsumsi minuman panas yang lebih tinggi, jumlah kasus meningkat menjadi lebih dari dua per 1.000 orang. Penelitian tersebut menunjukkan frekuensi konsumsi dan suhu minuman sama-sama berkaitan dengan risiko SCC.

Namun, hasil ini tetap harus dipahami sebagai hubungan berdasarkan pengamatan, bukan bukti jumlah atau suhu minuman secara langsung menyebabkan kanker.

Penelitian Memiliki Sejumlah Keterbatasan
Meski melibatkan hampir 1 juta peserta, penelitian ini tetap memiliki keterbatasan. Salah satunya adalah suhu minuman tidak diukur secara langsung oleh peneliti.

Peserta hanya diminta melaporkan suhu minuman yang biasanya mereka konsumsi dengan kategori sangat panas, panas, atau hangat. Perbedaan persepsi antarindividu terhadap suhu dapat memengaruhi hasil tersebut.

Minuman yang dianggap sangat panas oleh seseorang belum tentu dianggap memiliki suhu yang sama oleh orang lain. Penelitian ini juga bersifat observasional.

Artinya, peneliti mengamati hubungan antara kebiasaan konsumsi minuman dan kejadian kanker berdasarkan data peserta selama periode tertentu.

Oleh karena itu, hasil penelitian belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa minuman panas merupakan penyebab langsung kanker kerongkongan.

Peneliti telah memperhitungkan sejumlah faktor lain yang dapat memengaruhi risiko, termasuk kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol. Namun, masih mungkin terdapat faktor lain yang belum sepenuhnya terukur dan ikut memengaruhi hubungan yang ditemukan.

Suhu Sangat Panas Menjadi Perhatian dalam Penelitian
Temuan terbaru tersebut sejalan dengan sejumlah penelitian sebelumnya mengenai hubungan antara konsumsi minuman bersuhu tinggi dan SCC kerongkongan.

Penelitian yang diterbitkan dalam British Journal of Cancer pada 2025, misalnya, menganalisis 454.796 orang dewasa dalam UK Biobank.

Studi tersebut menemukan konsumsi teh atau kopi pada suhu panas maupun sangat panas berkaitan dengan peningkatan risiko oesophageal squamous cell carcinoma (ESCC), sedangkan hubungan yang jelas tidak ditemukan pada adenokarsinoma kerongkongan.

Penelitian tersebut juga menemukan risiko ESCC meningkat seiring dengan semakin banyaknya konsumsi minuman panas.

Pada kelompok yang mengonsumsi minuman sangat panas, peningkatan risiko terlihat bahkan pada konsumsi empat cangkir atau kurang per hari dan semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah konsumsi.

Temuan mengenai suhu tinggi juga telah terlihat dalam penelitian di negara lain. Sebuah studi prospektif mengenai konsumsi teh di Iran menemukan konsumsi teh dengan suhu 60 derajat celsius atau lebih berkaitan dengan peningkatan risiko SCC kerongkongan.

Namun, hasil penelitian tersebut juga tidak berarti bahwa setiap orang yang minum teh panas akan mengalami kanker.

Temuan penelitian terbaru tidak berarti masyarakat harus berhenti mengonsumsi teh atau kopi. Fokus penelitian adalah suhu dan frekuensi konsumsi, terutama pada minuman yang dikonsumsi dalam kondisi sangat panas.

Cancer Research UK juga menekankan penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami secara lebih terperinci bagaimana suhu minuman dapat memengaruhi risiko SCC kerongkongan.

Oleh karena itu, membiarkan teh, kopi, atau minuman panas lainnya sedikit mendingin sebelum diminum dapat menjadi kebiasaan sederhana yang bisa diterapkan, terutama bagi orang yang terbiasa langsung menyeruput minuman setelah diseduh atau disajikan. (edisi/bs)

Comment