Owner Afika Mengaku Berani Bangun 4 Miliar Gerbang Kendari-Toronipa

KENDARI, EDISIINDONESIA.id – Pengembang perumahan, Sahirudin ikut mengomentari viralnya gerbang wisata Kendari-Toronipa yang menelan anggaran fantastik 32 Miliar.

Owner Afika property ini mengungkapkan, ia berani membangun gerbang Kendari -toronipa di bawah 32 M sebanyak 4 gerbang.

Dikutif dari unggahan video akun TikTok @sahir.property mengatakan, bahwa dirinya mampu membangun gerbang seperti di jalan Kendari – Toronipa dengan anggaran 4 Miliar saja

“Untuk saat ini bahan seperti ini saya berani tender 1 miliar satu gerbang,” ucap dalam video unggahan @sahir.property.

Lanjut, kata dia, seumpama terbilang 1 gerbang menelan anggaran 1 miliar, maka 4 tiang membutuhkan anggaran 4 miliar. Dengan angka 4 miliar ini, Ia mengaku mampu mengambil alih proyek pembangunan ini.

Sahirudin menyebut jika anggaran 4 Miliar, menurutnya tidak boleh ada pungutan liar dalam pelaksanaan pembangunan gerbang Kendari – Toronipa ini.

“Tapi dengan ada syaratnya juga, jangan ada cubit – cubit atau potongan dari atas dari sini,” katanya.

Disisi lain, menurutnya jika ingin memperkokoh bangun gerbang Kendari – Toronipa ini, perlu menggunakan bahan yang bagus, yakni dengan menggunakan beton dan batu merah di setiap sudutnya.

Sementara itu, dalam unggahan videonya, Ia menegaskan, bilamana pemerintah memberikan ruang untuk membuat sebuah project, Ia menyatakan bersedia.

“Kalau misalkan pemerintah mau tantang saya buat kasih saya project kebetulan saya punya perusahaan dibidang konstruksi. Saya mendedikasikan tenagaku nggak perlu saya untung untuk kota Kendari tercinta,” tutupnya.

Sementara itu sebelumnya PJ Gubernur Sultra telah memerintahkan inspektorat untuk melakukan audit atas pengerjaan proyek Gerbang Kendari-Toronipa.

Selain itu Kapolda Sultra juga telah memerintahkan kepada personelnya untuk melakukan penyelidikan dugaan Tipikor terhadap pengerjaan proyek tersebut.

Media ini juga sebelumnya mengonfirmasi Kepala Dinas SDA dan Bina Marga Sultra, Pahri Yamsul, Ia membenarkan bahwa anggaran pembangunan gerbang tersebut memang mencapai Rp 33 miliar. Ia menjelaskan bahwa pilar gerbang menggunakan baja dan dilapisi dengan GRC Board, sesuai dengan desain yang telah disepakati.

“Anggaran sesuai kontrak seperti itu jumlahnya. Pilar beton menggunakan Baja, dinding penutup menggunakan GRC sesuai dengan gambar desain yang telah di sepakati” jelas Pahri melalui pesan WhatsApp pada Minggu, 1 September 2024.

Namun, ketika diminta penjelasan lebih lanjut mengenai alasan pemilihan GRC Board untuk lapisan luar pilar, Pahri Yamsul mengarahkan media untuk mengonfirmasi kepada Kabid Bina Marga, Harmunadin.

“Kalau itu nanti tanyakan ke penanggung jawab kegiatan namanya pak Harmunadin kabid bina marga, karena ketika itu saya belum ada di dinas Bina Marga sehingga saya tidak tau alasan teknisnya,” ungkapnya.

Namun, saat dikonfirmasi melalui telepon WhatsApp, pada Rabu 4 September 2024, Harmunadin terkesan irit bicara dan enggan memberikan penjelasan rinci.

“Nanti konsultan perencanaan yang jelaskan untuk lebih detailnya,” ucapnya singkat, tanpa memberikan keterangan lebih lanjut.

Selain itu, Konsultan Perencana, Nizar saat dikonfirmasi via telepon WhatsApp, Kamis, 5 September 2024 mengatakan terkait hal tersebut, awalnya itu dari usulan Gubernur Sultra pada zaman itu.

“Jadikan begini terkait video viral itu di media sosial, kan awalnya itu usulan jaman Pemprov waktu zaman Pak Ali Mazi, pada waktu itu beliau ingin ada satu ikon di jalan menuju wisata Toronipa, yang sedikit berkiblat ke London Bridge yang ada Inggris, tapi kalau yang disana memang beton, dan ukurannya lebih kecil, semacam gapura, dia hanya mengolongi dua lajur jalan, sedangkan kita empat lajur jalan,” ucapnya.

Lanjutnya dengan kondisi seperti itu tidak bisa dibuatkan beton semua.

“Dengan bentang 30 Meter gerbang Kendari-Toronipa, tanpa adanya topangan, satu-satunya solusi yah dengan rangka baja, itu seperti bangunan-bangunan lainnya juga menggunakan rangka baja dan dilapisi fasat yang sifatnya eksterior, dia bukan struktural itu lah GRC atau campuran beton dengan nilon fiber, dan itu material umum untuk digunakan seperti di Masjid Al-Alam,” ungkapnya.

Sambungnya pihaknya memilih struktur itu agar tidak terlalu berat, dan terhindar dari kemungkinan terbukti jika terjadi bencana.

“Struktur itu dibuat bukan untuk dipukul-pukul, atau dilempari, bukan soal tahan atau tidaknya, tapi peruntukannya untuk mempercantik strukturnya,” tambahnya.

Pihaknya juga mengungkapkan bahwa sebelum penyelesaian seratus persen, beberapa kali ada perusakan dari OTK.

“Sebelum diselesaikan seratus persen juga sudah beberapa kali kita dapat ada yang sengaja merusaki, dan pada saat itu kita sudah sampaikan dan sosialisasikan ke masyarakat sekitar untuk dijaga sama-sama ikon pembangunan kita ini,” pungkasnya.(**)

Comment