EDISIINDONESIA.id — Stalin, Mao, Hitler, Kim dan Pol Pot dikenal sebagai pemimpin yang memiliki kepribadian berbahaya. Ketika situasinya tepat, manusia sejenis ini dapat menimbulkan ancaman yang sangat eksistensial bagi rakyatnya sendiri.
Lima pemimpin di atas telah dicatat sejarah memiliki ciri-ciri psikopati dengan gangguan kepribadian narsistik dan paranoid.
Ciri-ciri ini termasuk kepemimpinannya dalam membangun kepatuhan paksa kepada siapapun. Paranoia terhadap ancaman kekuasaannya, dehumanisasi terhadap lawan yang dilakukan secara terang-terangan, kemarahan yang narsistik dan optimisme berlebihan yang mendekati fantasi.
Tesis akademis menunjukkan bahwa setiap pemimpin dengan gangguan psikopati akan seterusnya memiliki kecenderungan menjadi tiran dan totaliter. Kata Andrew Lobaczewski, “𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘴𝘪𝘬𝘰𝘱𝘢𝘵 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘴𝘪𝘬𝘰𝘱𝘢𝘵, 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘳𝘬𝘢.”
Masing-masing pemimpin yang psikopat tersebut selalu berupaya membangun karismanya secara destruktif. Masing-masing memperoleh pengikut melalui kemampuan retorika dalam membujuk orang lain. Setiap tiran juga didorong oleh fantasi narsistik yang kuat dengan kebohongan yang sengaja diciptakan.
Stalin, Mao, Hitler, Kim dan Pol Pot semuanya didorong oleh fantasi yang sangat sederhana tentang masa depan yang dipaksa ideal. Sebuah fantasi yang dicirikan oleh campuran elemen narsistik, paranoid, dan psikopat yang cenderung tantrum. Dan tipologi ini membuat masing-masing tiran pada akhirnya terlibat dalam penyalahgunaan kekuasaan yang ekstrem, dengan alasan mewujudkan cita-cita yang ideal tadi.
Semua tiran menggunakan kekuatannya (aparat negara dan rakyat sipil yang dipersenjatai) untuk melenyapkan siapapun yang dianggap musuh untuk mencegah kritik terhadap pencitraannya. Jurus lain biasanya juga digunakan dalam memberangus sejarah masa lalunya yang dianggap tidak sesuai dengan pencitraannya melalui konstruksi sejarah pribadi yang fiktif. Sejarah kelamnya akan selalu berusaha diringkus sekuat tenaga.
Akhirnya, semoga Indonesia ke depan tidak pernah memiliki pemimpin seperti ini. Keinginan ini tentu saja tergantung kita semua. Jangan hanya karena sembrono selama 10 detik di bilik suara, lalu penderitaannya harus ditanggung hingga bertahun-tahun berikutnya.
Penulis: Islah Bahrawi, Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia
Comment